Tidak Naik Kelas Bukan Kiamat untuk Saya

“Din, sekolah mulu, gak udeh-udeh” Ledekan Ibu dari salah seorang teman sepermainan ku di rumah, selalu terngiang di telinga ku, melekat seperti luka bekas pecut, sepele tapi sudah telanjur menjadi luka batin untuk ku.

future

 

6 tahun lalu (2006)…..

Disaat ibu-ibu lain bangga anak mereka dapat melanjutkan naik ke kelas tiga. Ibuku harus bersabar dan menahan malu. Anak perempuan yang dari kecil selalu jadi kebanggannya, tidak pernah mengecewakan, berprestasi di bidang olahraga, saat itu anak perempuan satu-satunya ini dinyatakan Tidak Naik Kelas.  Ya, aku (pernah) tidak naik kelas.

Sampai di hari ini, Ibuku sendiri masih belum tahu bagaimana anaknya ini bisa tidak naik kelas, yang beliau mengerti hanyalah “anak saya gak naik kelas karena malas belajarnya, malas karena di rumah gak ada yang menemani belajar, saya sibuk bekerja, ayahnya sudah gak tinggal bersama kami”. Begitu pun pemikiran orang-orang terdekat kami, mereka berpikir bahwa saya ini korban anak broken home yang sulit beradaptasi dengan lingkungan sekolah sehingga tidak memiliki motivasi untuk belajar.

“anak broken home, gak nik kelas, bego, doyan maen”. Begitulah kesimpulan mereka, kesimpulan yang dibuat tanpa bertanya kepada ku.

Lalu sebenarnya kenapa?
Aku merasa perlu untuk menceritakan ini, di sini, satu-satunya tempat terbaik untuk ku bercerita.Di mulai dari  minggu pertama ku masuk Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta Pusat. Di minggu pertama aku sudah mendapat panggilan baru ‘CIPUY’ Cina Puyeng.

Mungkin bagi teman-teman ku ini sepele, cuma sekedar panggilan, tapi tidak untuk ku, tidak untuk seorang anak keturunan cina yang memiliki trauma dan luka batin dari peristiwa penjarahan dan pemerkosaan di Tahun 1998. Saat orang memanggilku ‘cina’ rasanya seperti dipaksa meneteskan jeruk nipis di atas koreng yang hampir saja sembuh, ‘gak sakit, tapi perih’. 4 Tahun aku sekolah, 4 Tahun juga aku dipanggil CIPUY.

Satu tahun pertama aku masih bisa bertahan, memaksakan diri, menutup kuping, menguatkan hati, tetap bisa berteman dengan banyak teman, bahkan sempat punya genk. Meskipun di geng itu fungsi ku hanya satu, untuk di bully, untuk membuat mereka senang. Aku si bodoh yang dengan lugunya berpikir ‘gak apa-apa kaya gini, yang penting punya teman’. BODOH!

Memasuki tahun kedua, sikap teman-teman semakin membuat ku tidak betah bersekolah, jangankan masuk gerbang, sampai di ujung jalannya saja aku malas, motivasi ku untuk belajar hilang. Aku gak tahu harus membagi cerita ini kepada siapa? Ibuku terlalu sibuk menafkahi aku dan adikku. Selama sebulan aku berangkat sekolah dari rumah tapi tidak pernah benar-benar sampai di sekolah, aku bolos, kemana pun aku bisa pergi, kadang ikut teman-teman yang bolos juga, kadang jalan-jalan sendiri naik krl ekonomi, kadang ke rumah om dan bilang hari itu diliburkan, apa saja kemana saja yang penting bukan sekolah.

Sampai di hari kenaikan kelas, Ibu ku pulang membawa raport dengan satu pertanyaan: “Kakak mau pindah sekolah, atau mau tetap sekolah di sini tapi satu kelas bareng sama adik kelas? Kakak malu gak kalau ngulang?”
Hal ini adalah sesuatu yang sebenarnya sudah aku bayangkan akan terjadi, tapi tidak pernah aku pikirkan harus bagaimana bila benar-benar terjadi?

Saat itu juga spontan aku menjawab “Gak, kakak mau tetap sekolah di sana, gak mau pindah”. Saat itu ada beberapa hal yang menggantung di kepala ku. Pertama, ibu akan mengeluarkan biaya lebih banyak lagi untuk kepindahan sekolah ku. Kedua, kalau aku pindah berarti aku kalah! aku kalah pada keadaan, aku kalah pada teman-teman yang selama itu mem-bully ku, aku kalah melawan kemalasan ku untuk berjuang. GAK! aku gak boleh kalah, gak boleh nyerah!

Aku tetap mengulang duduk di kelas 2 bersama teman-teman yang sebelumnya memanggilku ‘kakak’. Ibu Widi, wali kelas dua saat itu mengatakan satu hal yang akan selalu aku ingat “Kamu itu punya potensi sebenernya dibanding teman-teman sekelasmu kemarin, tapi sayang kamu malas berjuang”. Perkataan itu yang terus menyemangatiku sampai akhirnya aku naik ke kelas tiga dengan nilai memuaskan.

Satu tahun bersama adik-adik kelas ku adalah hari-hari yang cukup menyenangkan, aku tidak lagi di bully (ya iyalaahhh peteran, mana ada yang berani nge-bully,hahaha. Katanya si gitu). Tapi yang pasti aku beruntung bertemu mereka. Terimakasih untuk mereka yang bisa menerima kakak kelas yang malas ini.

Saat aku sudah duduk di kelas tiga, semangat belajar ku tetap terpacu berkat adik-adik kelas ku yang hebat itu. Di saat hubungan ku dengan teman-teman lain di rumah (yang tidak satu sekolah dengan ku) perlahan menjadi jauh. Di saat aku benar-benar seorang yang tidak memiliki teman, mereka satu-satunya teman yang ada di sisi ku saat itu, memberi ku semangat.

Satu waktu, ada peristiwa di luar sekolah yang kembali menamparku. Aku ingat jelas, saat itu hari senin karena aku memakai seragam putih-putih. Sepulang sekolah tanpa berganti seragam, aku berjalan kaki menuju rumah opah yang jaraknya hanya seratus meter dari rumah ku. Melewati beberapa rumah teman-teman sepermainan ku di rumah. Di sana Ibu-ibu mereka sedang asik ‘ngerumpiii’, salah satu ibu menegurku dengan volume cukup keras “Din, sekolah mulu, gak udeh-udeh”. Spontan ibu-ibu yang ada di tempat itu ikut tertawa terbahak-bahak, salah satu dari mereka menimpali “makanya din belajar yang bener”.

Saat itu aku sadar, wilayah tempat tinggal ku (di kemayoran) termasuk lingkungan yang padat. Cerita mengenai ‘si dinda gak naik kelas’  itu sudah pasti diketahui orang banyak. Wajahku terasa panas seketika, mataku mulai basah, dalam hati ku ‘kalo lo diem doang, lo bego!’ Ya, aku menjawab mereka dengan cengiran datar “iya bu, misi bu, buru-buru”. Aku hanya mampu menjawab sebatas itu, mataku sudah basah dan aku sedang tidak ingin dikasihani.

Semenjak saat itu, tekad ku bulat. Aku harus mengalahkan temanku, anak dari si Ibu itu. Aku harus menjadi lebih dari anak laki-lakinya itu. Aku harus kuliah, lulus lebih cepat dari dia, dapat kerja lebih dulu dari dia, punya profesi lebih keren dari dia. Menjadi lebih baik dari dia. Suatu hari kami akan bertemu, dan anda akan menyesal pernah mengatakan hal itu kepada ku.

 

Juli 2008 Aku lulus sekolah dengan nilai cukup memuaskan. Melanjutkan kuliah di polteknik dengan jurusan Computer Design Multimedia, menjadi salah satu kandidat untuk pertukaran mahasiswa ke Malaysia. Tahun 2009 aku diangkat menjadi ketua UKM Computer Club, diminta menjadi badan pengurus beberapa UKM. Tahun 2011 aku diminta magang di perusahaan otomotif  terbesar di Indonesia sebagai animator. Tahun 2012 aku mulai bekerja sebagai seorang Tenaga Ahli Design Graphic di sebuah lembaga riset hukum.

Sampai sekarang, di hari aku membuat tulisan ini, aku sudah berprofesi sebagai seorang Design Graphic professional di salah satu perusahaan kosmetik korea. Saat ini juga aku menjadi relawan pengajar di sebuah sekolah informal untuk anak jalanan di Kota Tua.

Tulisan ini ku buat untuk Ibu yang berjuang sendiri menyekolahkan ku.

Untuk teman-teman sekolah yang saat ini sudah sibuk menggendong anak.

Untuk seorang guru dan adik-adik kelas yang sangat bijaksana.

Untuk seorang ibu yang aku tahu anaknya saat ini belum menjadi apa-apa.

Untuk adik-adik dan teman-teman di luar sana yang pernah atau saat ini merasa sendiri, terbuang, tidak beruntung, serba kekurangan. Harus berbesar hati, harus optimis, hadapi apa pun jalan yang membentang di depan mata kalian. BERJUANG!

 

Tidak Naik Kelas bukan akhir segalanya, bukan akhir hidup ku, bukan hukuman untuk ku.

Tidak Naik Kelas adalah Titik Awal Tuhan menghadirkan hal-hal terbaik untuk hidupku.

Tidak Naik Kelas Bukan Kiamat untuk Saya.

 

Advertisements

12 Comments Add yours

  1. Pengalaman anda sama saya saat ini hampir sama
    Saya masih SMK
    jurusan multimedia
    masih duduk dikelas 2 (formal)
    belum pernah ga naik kelas

    tapi hampir sama kejadiannya disekolah
    Saya sering dibully disekolahan
    hingga sekarang saya sering bolos bolosan

    Saya sudah berusaha untuk membalas “Bully” an tersebut.
    namun saya tetep kalah karena “mereka” yang membully saya beramai ramai sementara saya sendiri

    #sedikit curhat

  2. pambudhi says:

    i love your post !

    aku mengerti apa yang kamu rasakan karena saat ini aku juga dalam keadaan seperti yang kamu lalui dan aku juga akan tetap semangat

  3. alexander diga s says:

    Saya kls 2 sma kak… sekarang kurang 1 bulan. Takut banget gk naik kelass… saran dong

    1. veskadinda says:

      Halo Diga, salam kenal.
      Ketakutan itu sebuah kewajaran dan lebih baik dinikmati saja prosesnya. Saya gak bisa memberi saran bagaimana menghadapi ketakutan. Paling tidak saya bisa ceritakan, biasanya saya akan menulis di saat resah. Diga juga pasti punya cara sendiri dalam menghadapi ketakutan. Sekali lagi, nasib mu 5 tahun ke depan bukan ditentukan dari kenaikan kelas. Tapi dari kemauan keras. 🙂

  4. Handin says:

    Mba,aku terancam bakal ga naik kelas karna jarang masuk dan jarang ngerjain tugas tapi bukan karna bullying hanya kurang nyaman sama lingkungan sekolah itu ada perasaan aku mau pergi aja ga betah sekolah disini temen juga pada cuek,aku juga punya masalah sama rasa percaya diri aku susah sosialisasi.kira kira aku harus gimana dikit lagi ukk dan sebelum ukk harus udah pindah sekolah aku frustasi sebenernya mama ga permasalahin aku pindah tapi aku takut pas pindah sekolah keadannya ga beda jauh seperti sekolah sebelumnya aku pernah mgerasain jg jadi anak pindahan rasanya ga enak…

    #maafcurhat

  5. Dendi Santoso says:

    Ternyata saya tidak sendiri, masih ada orang yang bernasib sama dengan permasalahan yang sama tapi halangan yang berbeda-beda 🙂

    1. anon says:

      keren(y) ceritanya sama banget kayak aku.. aku tahun ini dinyatakan tidak naik kelas, dan sama aku juga kelas 2 sma, frustasi banget dengan kenyataan yg ada.. ga frustasi gimana.. aku cwe, jurusan ipa, tp ga naik kelas.. faktor utama karna aku jrg masuk, jrg masuk jga karna ada masalha keluarga, jdi aku ketinggalan byak ulangan dan tugas2.. tapi ada untungnya aku ga naik kelas, ini kesempatan aku buat keluar dari neraka yg berbentuk sekolah itu.. saran dong ka.. aku mesti gimana, mending ngambil paket c atau lanjutin ke kelas 2 atau aku ngulang lagi dr kelas 1.. jujur sih cita-cita aku jd dokter tapi karna aku ga naik kayaknya ga mungkin untuk jd dokter..

  6. Rio says:

    kak aku tidak naik kelas aku sangat sedih tapi aku tdk bisa berse
    angat yg kak pikirkan itu aku merasa diriku adalah orang yg paling bodoh didunia orang tuaku sangat sedih mendengar kalau saya tdk naik kelas aku merasa sangat bersalah sekali kepada orangtuaku aku mempunyai ibu dan tidak mempunyai ayah , ibuku penjual kue aku sangat sesih karena ibuku harus mengeluarkan biaya yg besar dan aku punya tekad untuk rajin belajar ,kak tolong berikan solusinya ya .

  7. pascal says:

    im just wannna say thanks

  8. Rachma says:

    Ntar tanggal 25 dibagi rapot,
    Aku pasti gabakal naik kelas
    Karna alfa ku sama plajaran yg ktinggalan banyak sekali 😥
    Cerita hidupku sama sekali sm kaka , tp klo d bully ngga ,krn d sekolah aku gaada pmbullyan, cuma d jauhin sm tmn2, gaada motivasi belajar, krn aku tinggal d bkas rumah mamapapa dlu, yaa wlaupun dkt bgt sm rumah nenek saya,tp sama saja mreka mlh mmbiarkn aku tdk sekolah bahkan katanya ” buat apa cwe skolah smk, ntar juga balik ke dapur”
    Skarang tnggal 21, kmarin tggl 20 rapat knaikan, alfa sm nilaiku sgt jauuh dr tmn2, kt tmnku (yg dulu ngjauhin,& jd provokator yg skrg insaf krna dia jg ngrasain jd aku)
    “Gpp sekolah aja dulu,siapa tau tar naik”
    Pdhl guru2 yg dmnta tugas udh mrah2, mlah ada yg bilang
    “Knapa ga dr kmaren? Rahma, misalkn klo tugas2km bres jg km blm tntu naik kelas! Krna alfa km sgt banyak”
    Aduh , kepahitan d depan mata
    Aku gamau ngulang kaya kakak, krna aku gampang nangis klo dhina,
    Ada rncana pribadi ku kedua, aku mau msantren mndalami agama,tp smbari skolah..
    Gmana ya kak ksih aku solusi..
    Gimana caranya biar aku siap ngehadapin cobaan ini??? 😥 😥
    #curhat

  9. Ini baru orang keren 🙂

  10. alin radjab says:

    Menginspirasi…..untuk seorang single parents dengan anak yang bernasib sama seperti anda….Semoga kelak anak saya bisa mencontoh semangat juang si Mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s