Dia berbagi tanpa harus

berbagi

Sabtu yang lalu aku melancong ke kota yang sudah lama sekali tidak aku sambangi, Bogor. Rencana awal ku pergi ke sana sendiri, karena memang ada tugas dari Tim Dokumentasi dan Tim Penilai Independen Karya Anak Indonesia.

Harus ke kota itu lagi, sendiri. Malas rasanya. Aku memutuskan untuk mengajak seorang teman laki-laki. Karena itu hari sabtu, teman-teman perempuan ku pasti sibuk dengan pasangannya.

Kami berangkat dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Bogor. Setengah jam perjalanan, dia sibuk bertelepon dengan sang pacar yang notabene ada di kota lain yang sangat jauh dari Bekasi. Aku sendiri memilih untuk membaca buku yang sudah lama tidak terselesaikan. Saat transit di stasiun Manggarai, barulah konsentrasi kami terpecah, sibuk pindah kereta. Lalu setelah itu kami memulai obrolan.

Aku bercerita tentang tujuan ke Bogor hari itu, obrolan kami berlanjut saling menanyakan kehidupan masing-masing. Sejauh ini aku nyaman berbincang dengan dia, seperti menemukan sosok kakak mungkin yah. Semakin banyak dia cerita, semakin kagum aku melihatnya, dan semakin paham aku akan kasih sayang yang dia miliki untuk wanitanya. Beruntung ‘si mbak’ itu pikir ku.

Sampai di Bogor, kami makan ketoprak di depan kampus pakuan. Sambil menunggu dijemput oleh Kakak dari Sahabat Bogor (tempat aku menjalankan tugas ku hari itu). Jam setengah tiga sore kami bertemu dengan adik-adik Sahabat Bogor di sebuah pemukiman pemulung di daerah ciheuleut. Sebagian sedang sibuk mengerjakan project Karya Anak Indonesia, sebagian lagi belajar bersama kakak-kakak di sana.

Aku mengerjakan tugasku, melakukan penilaian, menanyakan hal-hal yang harus ku isi di lembar worksheet. Teman ku tadi (kita sebut dia ‘mas’ biar gampang) membantu tugas ku untuk mendokumentasi kegiatan adik-adik Sahabat Bogor. Terimakasih yo mas bantuannya, hehehe.

Setelah selesai mengerjakan tugasku, begitu juga dia yang sepertinya sudah mengambil semua objek anak-anak di sana. Kami bermain-main dengan adik-adik Sahabat Bogor, berbincang, kejar-kejaran, gendong-gendongan. Haus ku dengan canda tawa adik-adik Kota Tua seperti terteguk di sini, semua penat di kepalaku seakan hilang, terlupakan untuk sementara.

Aku asik bermain, tidak sadar ternyata kakak-kakak SB sedang serius menasihati seorang adik perempuan. Aku dan ‘mas’ memilih nimbrung dengan mereka.

Namanya Risma Handayani, anak perempuan yang sedang galau memilih SMK Swasta atau Negeri. Kakak-kakak sahabat Bogor berusaha memberi pengertian untuk berjuang masuk sekolah negeri, kalau gagal barulah pikirkan untuk sekolah di Swasta. Tapi sayangnya Risma sudah kepalang mendaftar di sekolah swasta dengan biaya satu juta rupiah. Sejumlah uang yang pastinya tidak kecil untuk Risma dan keluarga.

Padahal sebenarnya pendaftaran sekolah negeri baru akan dibuka pertengahan juni nanti. Semakin galau lah si Risma ini, mendengarkan kami bahwa Negeri itu lebih baik dari swasta, aku sendiri menekankan ‘negeri itu tiket kemana-mana’, dan lain sebagainya. ‘mas’ pun gak mau kalah untuk meyakinkan Risma.

Ternyata ada kebingungan di benak Risma “Kak, kalau diterima di Negeri kan sayang uang pendafttaran ini, satu juta itu gak kecil kan kak. Udahlah terusin aja di sini”.

Aku tercenung, serumit ini seorang anak memikirkan sekolahnya. Dulu waktu aku memilih sekolah menengah atas, yang aku pikirkan pergaulan, pengajar, atau ekstrakulikuler. Hal-hal yang jauh dari sebuah hal bernama uang.

“Yaudah, kalau kamu diterima di Negeri, aku yang gantiin uang satu juta itu” Mas tiba-tiba melontarkan niat baiknya.

Niat baik yang aku tidak mengerti bermuara dari mana, dia baru pertama kali bertemu Risma, mungkin juga pertama kali berinteraksi dengan anak marjinal. Aku terharu, hampir tumpah air mataku. Ada seseorang yang mau berbagi cukup besar tanpa harus tau lebih lanjut mengenai orang yang dia bantu. Hanya dengan satu syarat ‘bisa masuk sekolah negeri’. Dia menghargai semangat seorang anak untuk sekolah dengan hanya berbincang tidak lebih dari satu jam.

Iseng aku bertanya saat perjalanan pulang “Koq sampe segitunya sih mas?”

“Aku inget bapak ku din. Dia itu kalau ada anak mau sekolah, yang penting niat aja mau sekolah, pasti dibantu. Aku yakin sih din, dia itu pasti bisa, keliatan koq. Jadi yah harus dibantu”

Nyaris benar-benar menetes air mataku. Betapa beruntung aku dipertemukan dengan mas ini. Diajarkan banyak hal.

Dari kami memulai perjalanan hari itu, dia sudah mengajarkan ku banyak hal. Dia mengajarkan betapa harus menghargai orang yang berada di samping kita saat ini, menjaga kepercayaannya, menjaga hatinya, dan menghargai waktunya. Dia memberiku semangat untuk terus melakukan hal-hal baik tanpa harus melihat untuk siapa dan bagaimana hasilnya. Dia mengajarkan ku lebih dari sekedar berbagi, menyayangi, dan mengasihi.

Dia berbagi tanpa harus…….
Terimakasih Mas….. πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s