“YAKIN DAN JANGAN BERGANTUNG” -Thanks Kak Pritha-

Certainty-Dice

Seberapa besar rasa positif di hati saya, sebesar itu lah tekad saya dalam  melakukan sesuatu. Ini terbukti dengan pengalaman saya kemarin malam di Rumah Belajar Senen.

Setiap hari selasa ada kelas khusus di RBS untuk membaca dan mengenal alfabet. Kelas ini ditujukan kepada adik-adik RBS yang masih kesulitan membaca atau bahkan mengenal huruf. Selasa kemarin saya dan kakak-kakak lainnya ragu-ragu untuk datang mengajar. Kami khawatir gak ada adik-adik yang datang untuk belajar. Karena di hari sabtu sebelumnya kami tidak mengumumkan bahwa kelas baca sudah dimulai di hari selasa. Alhasil menjelang jam pulang kantor kami galau mau datang atau enggak. “Nanti adik-adiknya gak ada lagi kita udah dateng”.

Uncertainty will lead us to the unclear condition. Puncak Gunung Rinjani gak akan pernah ditapak oleh seorang pendaki amatir tanpa adanya keyakinan, betul gak Mba Reno? RBS gak akan pernah jadi juara Karya Anak Indonesia tanpa adanya keyakinan. Kelas membaca tadi malam tidak akan pernah terjadi tanpa adanya keyakinan dari diri saya.

Dari keyakinan yang sudah terbentuk tadi, barulah saya membuat strategi gimana caranya masalah adik gak dateng karena gak diumumin ini bisa terpecahkan. “Kita samperin aja ke rumah-rumahnya kan deket”. Yesss! Modal yakin doang gak akan berhasil tanpa ada pemikirian untuk jalan keluar.

Masalah selanjutnya adalah, Kak Pritha (Humas Adik) juga masih terjebak di balik meja kerjanya. Ini soal ketergantungan, berhubung saya juga masih baru, dan kakak yang lain juga gak tahu di mana rumah adik-adik. Jadi lah saya merasa bergantung pada Kak Pritha (kalau dia tahu ini pasti saya diomelin,haha). Setelah saya pikir-pikir kalau gak dicoba nanti saya akan bergantung terus dengan Kak Pritha. Jadi lebih baik saya bulatkan tekad dan tetap berpikir positif.

Bermodalkan keyakinan tadi saya berangkat menuju RBS, dan benar saja gak ada adik yang datang untuk belajar, predictable. Di RBS hanya ada Kak Widya yang justru sempat mengatakan “gimana yah, udah jam setengah delapan juga” *gelagat mau pulang aja. Dengan penuh semangat saya menjawab “yaudah kak widya tunggu sini, aku susulin adek-adek ke rumah-rumahnya. Masa udah sampe sini sia-sia”.

Ya, saya gak suka hal yang sia-sia. Sudah luangkan waktu dan tenaga tapi nothing to do, useless, buat apa? Positif Thingking aja, YAKIN aja dulu. Masa adek-adek mau nolak ajakan kakaknya belajar. Penuh keyakinan saya menyambangi pemukiman tempat adik-adik tinggal, dan sebenarnya saya hanya tau areanya saja, rumah percisnya yang mana saya pun gak tahu. Yaudah lah ya modal bibir aja, saya tanya ke ibu-ibu yang sedang asik ngerumpi di ujung pertigaan.

And YEAH… I got them.

Satu persatu mereka datang ke RBS dan ikut kelas membaca selama 90 menit. Biarpun jumlah mereka gak lebih dari 10 orang, yang paling penting adalah kedatangan saya tadi malam tidak sia-sia. Lebih penting dari itu adalah saya berhasil membuktikan kepada diri sendiri tentang sesuatu yang disebut The Power of KEYAKINAN dan perlahan saya belajar untuk tidak bergantung kepada Kak pritha. Syukur-syukur setelah ini saya bisa lebih mandiri lagi dan tidak bergantung kepada orang lain. 🙂

Thanks Kak Prit, kadang ‘galak’ lo itu bisa memicu akal dan keberanian gue melakukan sesuatu :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s