#DANBERNYANYILAH

Dan Terus Bernyanyilah

Di bawah lembutnya senja parahyangan, izinkan aku bertutur rindu, biarkan aku mengenang nyanyian bersama mu di tempo doeloe. Ini bukan sekedar mengingat, bukan sekedar kembali.

Berjalan di atas trotoar yang sama, di bawah rindang yang kini menjingga. Tanpa cengkrama, tanpa petikan dawai, tanpa pundak untuk bersandar, tanpa kau. Hanya aku seorang, kini diam, seolah tegap dan siap dengan dawai di genggaman. Alih-alih memetik, justru mengepal semakin kuat. Sekuat hantaman kijang putih yang memisahkan genggaman kau dan aku di sore itu. Di sana, di ujung trotoar ini, di simpang jalan tempat kau menyatakan rasa. Inti dari tubuh ku seakan ikut terpelanting bersama tubuh mu yang terkapar di tengah persimpangan.


Di tempat kau meminta untuk bersama, di tempat itu pula kita berpisah. Nafas terakhir mu pun tak sempat ku rasa, hanya cairan kental merah, hanya tubuh kurus mu, hanya raga, tanpa asa, tanpa jiwa.

Rendra, ini karena ku, salah ku. Andai aku bersabar, sebentar saja. Andai tak semendesak itu aku meminta. Andai…

Andai kau masih di sini, nyanyian ku tak akan lara, dawai ini tak akan hampa, rindu ini pasti reda.

Rindu tinggal lah rindu, tidak ada lagi Rendra, hanya aku, hanya Dinda.

Entah seperti apa rupa wanita yang menuliskan surat ini, tapi saya tahu pasti siapa Rendra yang dimaksud. Korban tabrak lari beberapa bulan lalu di perempatan jalan yang tidak jauh dari rumah. Ya, pasti dia yang dimaksud. Ternyata pasangannya selamat, kasihan. Gimana ya rasanya ditinggal pergi selamanya oleh orang yang kita cinta? Ah, entahlah.

Ah iya, saya harus menyiapkan bahan presentasi untuk besok menyambut Program Manager yang baru. Semoga saja beliau ini laki-laki, kalaupun perempuan, semoga saja gak  merepotkan. Beberapa kali bekerja sama dengan perempuan, hanya berujung pada surat pengunduran diri, apa yah salah saya ini?

 

***

Bandung pagi ini cerah, gak berawan, gak berembun di pagi buta-Acha Septriasa. Haaahaaa

Saya risau menunggu si PM baru ini, sudah jam Sembilan pagi tapi belum ada tanda-tanda.

09.30 dia datang, tiga puluh menit terlambat, pasti lama make up daripada mikirnya.

“Hai, Alvi yah, saya dinda PM dari Jakarta” Jelas saja saya langsung bias dikenali karena di ID card kami tertera nama dan foto.

“Iya bu, saya Alvi” saya menjabat tangannya, sepertinya dugaan saya terbukti, cewek metropolitan kekinian, hmm.

“Dinda aja” Dinda, seperti nama cewek di surat itu. Mungkin kebetulan.

***

Seminggu sudah si Dinda ini mengkordinir project baru kami, aman terkendali. Gak ada kurang satu apapun. Sorry, ada yang kurang. Hubungan personal teteh-teteh metropolitan ini dengan saya bisa dibilang kurang baik. Kami hanya berinteraksi sesuai kebutuhan pekerjaan, kalau bukan soal planning, controlling, ya management. Gak bisa dibilang normal untuk ukuran perempuan metropolitan.

Benar saja, asumsi saya lebih banyak salahnya. Seminggu ini dia sudah 3 kali menginap di kantor tanpa mandi keesokan paginya. Dia juga gak banyak ngomong.

Suatu waktu ada kesempatan hadir di sebuah acara bersama atasan saya ini. Saya pikir di jalan akan boring, ternyata gak sama sekali. Di dalam mobil wanita ini sibuk bernyanyi dengan ukulelenya. Sementara saya menjadi supir dan pendengar yang baik sepanjang perjalanan.

Ternyata itu bukan kesempatan terakhir, di waktu-waktu berikutnya kami jadi lebih sering bersama untuk datang ke sebuah acara. Gak jarang juga setelah itu kami hang out. Pemikiran saya berubah mengenai wanita ini. Berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya, menyenangkan untuk diajak berdsikusi, topiknya pun bebas.

Sudah hampir dua bulan kami saling mengenal dan semakin dekat. Sebaga laki-laki normal, bohong kalau saya bilang tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan wanita ini. Hanya saja ada yang mengganjal di hati saya.

Dia adalah Dinda isri dari laki-laki korban tabrak lari di dekat rumah saya. Saya pikir aasan saya ini masih terlalu muda dan polos untuk dibilang janda. Pertanyaannya apa saya ini mau berapcaran dengan janda? Ah tapi siapa yang akan menyangka dia janda? Masih lebih muda dari saya bahkan. Ya, saya harus coba.

Mulai dari memberikan hal-hal romantis sampai mengutarakan langsung isi hati saya, akhirnya dilakukan. Tapi, NIHIL. Mungkin dia sudah menutup kesempatan untuk laki-laki baru di dalam hidupnya.

Tapi ternyata bukan itu, dia mengkhawatirkan hal lain. Dia masih kecewa, dia masih menyesali kecelakaan itu. Saya coba meyakinkan bahwa tidak akan terjadi lagi, kami akan saling menjaga. Tapi gagal.

Suatu hari saya meminjam laptopnya untuk mengecek data. Ternyata masih ada CD tertinggal di dalamnya. Saya coba putar, isinya sebuah lagu yang belum selesai dibuat. Iseng-iseng saya coba melanjukan syairnya, dan menambahkan improvisasi dengan ukulele milik Dinda yang sering ditinggal di meja kerja.

Selesai, dan saya kirim hasil rekamannya via whatsapp messenger. Satu pesan masuk beberapa menit kemudian. Dinda mengajak saya bertemu di jalan dekat rumah, percis tempat di mana suaminya meregang nyawa.

Di sana dia sudah menunggu, raut wajahnya berbeda kali ini, lebih bersemangat dan bergairah. Dia memeberikan saya selembar kertas dengan tulisan tangan yang sama yang pernah saya temukan di depan pagar rumah.

 

Rendra,
Kepalan harus mulai terbuka, tangisan ku harus mereda, meski nyanyian ku masih sepi, aku benar-benar harus tegap kali ini. Ya, aku harus terus berjalan.

Sudah sewindu Rendra, nyanyian ku tak lagi sepi. Kini ada dia yang juga memetik dawai dan bersyair untuk ku. Bukan pengganti mu, tapi penerus mu. Dia yang meneruskan nyanyian kita, dia yang melengkapi syair yang baru setengah kau buat. Dia yang kini bersama ku untuk terus bernyanyi. Sesuai dengan wasiat mu, teruslah bernyanyi.

Di bentang jalan yang berbeda. Kami terus bernyanyi, mencipta syair dengan suka dan cinta. Saling menggenggam, bernyanyi, dan memetik dawai bersama. Dia menyembuhkan ku, menghapus perlahan sesal ku, melatih ku untuk menantang realita, memastikan aku tidak perlu terburu-buru.

Perlahan, dia menggantikan rindu ku kepada mu, rindu yang lalu.

Tak ada lagi sesal, hanya sedikit gundah karena pesan yang belum terbalas, banyak hal manis yang terkecup, banyak bahagia yang terekam, banyak nada yang bunyikan, banyak syair, dan kami terus bernyanyi.

 

***

Rasanya ingin melompat sampai menembus atmosfer bumi. Dia akhirnya menerima saya, memberi izin untuk terus bernyanyi bersama nya. Terima kasih, Dinda. Dan Terus Bernyanyilah.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan olehMusikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. usagi says:

    Kerennnn dek
    Sukses ya say

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s