“Buat apa berteman kalau menghindarkan dari kesalahan?”

 

friendship-pinky-promise-Favim_com-209922-612x300

Saya akui, segala kesalahpahaman dan asumsi yang belakangan muncul dibenak orang-orang terdekat adalah berkat keegoisan saya sendiri. Sampai akhirnya harus banyak yang kecewa, dan malas untuk mengajak berdiskusi atau bahkan mendebat sikap dan pilihan hidup saya.

Sejujurnya, saya sedang dilanda kelelahan untuk mendengar dan menuruti saran ataupun kritik yang ditujukan. Mungkin semua orang pernah mengalami ini, lelah disalah-salahkan, lelah diminta harus bersikap begini-begitu, lelah menuruti keinginan. Separah-parahnya adalah itu semua dilakukan oleh orang-orang terdekat, dan itu artinya saya gagal menjadi yang terbaik untuk mereka. Saya gagal melakukan hal-hal yang “konon katanya dinda bisa”. Gagal menjadi seorang fasilitator relawan, gagal menjadi designer professional, gagal menjadi anak dan cucuk yang bisa diandalkan, gagal menjadi seorang perempuan, bahkan gagal menjadi seorang kakak.

Rasa bersalah itu yang kemudian menghantui saya dan membuat lelah. Sampai merencanakan pergi sejauh-jauhnya ke tempat yang satu orang pun gak bisa menemukan saya. Lalu keinginan itu dibenturkan dengan tanggung jawab dan komitmen yang sudah diterima. Lari dari semuanya berarti bukan solusi, kemudian yang ada dipikiran saya adalah bersikap dan bertindak seenak’e dewe (bener gak nih tulisannya? :)) Saya takut disalahkan, dikritik, dan saya lelah diminta harus begini-begitu.

Ketakutan saya yang semakin menjulang itu diruntuhkan oleh pertanyaan Asta tadi malam “Buat apa berteman kalau menghindarkan dari kesalahan?” Speechless, sampai sekarang saya masih bingung mau menjawab apa.

Ada yang gak saya sadari, justru segala kesalahan dan permintaan yang diajukan kepada saya adalah bagian dari proses orang-orang ini menjadi semakin ada di hidup saya. Kenapa saya harus takut salah kalau ingin menjadi lebih berarti untuk mereka?

Teringat perkataan Mas Dede, “Suatu hari kamu akan menemukan orang yang bisa menanyakan dan memaparkan hal-hal gak berani kamu tanyakan ke dirimu sendiri. Itu tandanya kamu semakin hidup dan semakin ada untuk orang itu.”

Ibu, Kak Marsha, Kak herry, Kak Darul, Kak Angga, Mba Aida, Ibu Kaka, dan satu orang yang gak bisa saya sebut namanya di sini. Mereka adalah orang-orang yang dibilang oleh Mas dede, orang-orang yang semakin ada untuk Dinda, anak perempuan yang udah kelamaan menata dan merencanakan hidupnya sendiri. Saat kalian sebegitu hadirnya di hidup saya justru itu menjadi sebuah momok dan ketakutan tersendiri, bodohnya. 🙂 Maaf atas segala sikap dan keegoisan saya belakangan ini, maaf.

Jadi, saya gak akan lagi menghindarkan kesalahan, saya ingin berteman. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s