Saya? Kamu? atau Pesantren?

“Dinda, mendukung LGBT?”

Seperti letaknya yang antah berantah, di kantor selalu ada diskusi-diskusi hangat yang datangnya dari antah berantah. Kemarin soal LGBT, sedang marak memang, jadi antah berantah (menurut saya) karena didiskusikan oleh sekelompok orang dengan latar belakang dan kondisi yang sama. Gak apa-apa kan, berdialektika itu penting untuk aktualisasi diri.

Setelah pertanyaan “Dinda mendukung LGBT?” Saya terdiam dan bingung mau menjawabnya bagaimana. Saya bukan bingung “mendukung atau tidak”, tapi saya bingung menjelaskan pendapat saya. Belum sempat menjawab, lalu kemudian:

“Kalau dinda aja bingung dan gak bisa jawab, berarti sudah memaklumi, berarti ini kondisinya udah abnormal”

Karena sudah memaklumi sesuatu yang *menurut agama* melanggar norma, lalu kondisi tersebut dianggap abnormal. Jadi saya ini udah terjebak dengan kondisi abnormal, karena mulai memaklumi sesuatu yang melanggar norma dan agama. Pusing yak? sama…

Pendapat saya sebenarnya sederhana *awalnya*
“Saya gak mendukung, tapi saya gak mempermasalahkan dan gak mau ngeributin pilihan hidup seseorang, saya bersikap semata-mata atas nama kedamaian.”

Tapi saya tetap dianggap mendukung, “Membiarkan berarti mendiamkan. Mendiamkan berarti mendukung dalam diam.” Jadi ingat quotesnya Pak Anies “Orangorang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena banyaknya orangorang baik yang diam dan mendiamkan.”

Itu berarti ada benarnya juga, saya ini mendukung LGBT dalam diam.haha

Lalu beberapa jam kemudian, di salah satu group whatsapp ada chat seperti ini:
“👩‍❤️‍👩👨‍❤️‍👨👩‍❤️‍💋‍👩👨‍❤️‍💋‍👨👬👭👩‍👩‍👦👩‍👩‍👧👩‍👩‍👧‍👦👩‍👩‍👦‍👦👩‍👩‍👧‍👧👨‍👨‍👦👨‍👨‍👧👨‍👨‍👧‍👦👨‍👨‍👦‍👦👨‍👨‍👧‍👧
Emot di WA agak aneh ya, sprti mendukung lgbt”

Lalu di group whatsapp lainnya masuk lagi gambar screenshot sticker line terbaru.

Emot icon dan sticker line yang menggambarkan perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki. Mengingatkan saya dengan sebuah konsep sekolah plus tempat tinggal di mana kegiatan dan rutinitas laki-laki disatukan dengan laki-laki, begitu juga perempuan dengan perempuan, PESANTREN/ASRAMA.

Iya PESANTREN/ASRAMA, bagaimana dengan konsep ini? Merunut ke cerita beberapa teman yang memilih LGBT sebagai pilihan hidupnya. Beberapa berawal dari kenyamanan berteman dan melakukan banyak hal bersama-sama. Nah! Konsep pesantren/asrama ini juga sama kan dengan konsep emot icon dan sticker line? (atau saya salah beranalogi?) Yang satunya memberi potensi secara tidak langsung melalui aplikasi. Sementara yang satunya memberikan kesempatan merasakan langsung hidup bersama-sama dengan sesama jenis? Apa bedanya dengan emot icon dan sticker line?

Bedanya kalau pesantren/asrama diisi dengan dakwah/khotbah/ajaran norma dari manusianya langsung. Kalau emot icon dan sticker diisi dengan dakwan/khotbah/ajaran norma dari media atau individu di online chat ataupun platform (manusia secara tidak langsung).

Jadi kenapa yang diributin hanya emot icon? Kenapa konsep emot icon, sticker, dan segelas kopi dikritisi? Sementara konsep di dalam norma/agama itu sendiri tidak dikritisi? Kenapaaaaaa???

Jadi siapa yang sebenarnya mendukung LGBT di dalam diam? Saya? Kamu? atau Pesantren?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s