Untuk Ayah yang mengenalkan pahitnya ampas kopi

cropped-img_20151221_141105.jpg

“Semakin tinggi, semakin dangkal.” Begitu komentar dari seorang teman “baik” atas keputusan besar yang sudah saya lakukan.

Pertanyaannya, apa iya saya sudah semakin tinggi? Standar ketinggiannya apa?

Mencoba bertanya padaΒ diri sendiri. Saya bahkan masih amat sangat pendek dari sebatang pohon toge. Keputusan ini menjadi titik NOL bagi saya, kembali menjadi serpihan atom. Bukan untuk menentukan pilihan berikutnya, bukan untuk memperbaiki yang sebelumnya.

Untuk apa?
Untuk setiap luka yang digores. Untuk setiap sakit yang mendera. Untuk Ayah yang mengenalkanΒ pahitnya ampas kopi.

Kecewa? Pasti. Saya salah? Pasti, jika mengacu pada satu dasar. Berhak menghakimi? Tentu, karena siapapun di sekeliling saya pasti ingin menjaga dan menyayangi.

Saya tidak bertahan bukan karena ingin balik kanan atau hadap kiri. Sesederhana ingin menjadi diri sendiri. Saya manusia yang mengikuti naluri dan hati, tidak ingin menjadi binatang yang terpaksa beradaptasi.

Saya salah, saya dibenci, saya disayangi, saya dicintai. Tapi saya juga berhak dipahami.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s