Untuk yang ditinggalkan

semuah

Agustus 2015, perjalanan pulang setelah mengantar Ka’Pida menjadi saat-saat yang paling ‘memukul’ bagi saya. Bukan karena ditinggal Pida ke Inggris *macem rangga sama cinta aja gue*. Tapi karena sampai di titik itu lagi-lagi saya ditinggal, lagi-lagi saya didadahin, AH!

“Bego banget gue, mikirin Ayo Sekolah segitunya, tau-tau si Lizar pergi ke Aceh. Pida ke Inggris. Nuzul ke sana ke mari jadi peneliti. Doki yang Alhamdulillah wisuda. Terus GUE? Masih di sini aja, baru resign dari status zombie kapitalis, kembali jadi pekerja NGO di tempat yang lebih keren memang, yaย tapi disitu-situ aja. Ngejar S1 engga, nyari karir yang lebih jelas engga, bikin start up engga, yang ada di otak gue cuma Ayo Sekolah aja. Ini gimana sih?”

Ya, saya terjebak di dalam romantisme bergerak membangun mimpi bersama, tapi lupa si “bersama” ini terdiri dari mahluk-mahluk individualis yang punya hasrat hidupnya sendiri-sendiri.

Saat itu yang ada di kepala saya hanya kesal, sedih, emosi, pingin marah sama semuanya. “Njiiirr meen, lo ngemeng pengen ini itu, Ayo Sekolah harus begini begitu, bikin ngarep lah pokoknya. Tau-tau gue ditinggal pergi, maunya apa sih?” Posesif banget yah saya *kek mantan HAHA*, masa orang mau ngejar mimpinya, mau belajar, mau bahagiain orang tua, jadi lebih keren, terus saya salah-salahin. *Jahat amat gue*

Jujur, berbulan-bulan berikutnya saya masih belum paham “kenapa begini banget? Pacaran lama, berencana menikah, planning ini itu, tiba-tiba pacarnya PAMIT kek Tulus, kan ngeselin”

Sampaiย beberapa minggu lalu akhirnya saya ada di posisi yang sama seperti Pida, Lizar, dan Tulus :p
Saya harus mengirim surat pengunduran diri kepada lembaga tempat saya bekerja, belajar, dan berbenah diri. Padahal (sama seperti Pida dan Lizar) saya ikut membuat rencana, mimpi, dan harapan di rapat kerja akhir tahun 2015 kemarin. Kan ngeselin ๐Ÿ˜€

Saya gak tahu, ada atau enggak teman yang sekesal dan semarah saya seperti waktu itu, tapi saya merasa ada. Yang ingin saya sampaikan di sini:

Meninggalkan bahkan lebih sulit daripada ditinggalkan.

Setidaknya itu menurut saya setelah merasakan menjadi keduanya. Mau kesal, marah, gak mau duduk bersama lagi itu terserah. Saya gak ingin memaksakan apapun, siapa lah saya ini.

Teman, saya memang pernah bilang ‘ingin menjaga ini baik-baik agar tetap pada nilai yang saya yakini ketika bergabung’ Saya juga pernah menggulingkan harapan untuk bisa menjadi ‘motor penggerak’. Ya, saya pernah jadi Pida dan Lizar untuk Dinda.

Tapi saya juga anak perempuan biasa yang dititipkan mimpi oleh Ibunya, yang menjadi harapan seluruh anggota keluarganya. Saya selumrahnya anak yang punya mimpi untuk dibanggakan kepadaย orang tua dan orang di sekelilingnya.

Sejujurnya saya merasa kehilangan, merasa bersalah, dan segala hal lainnya. Saya ingin segalanya kembali seperti sedia kala, saya masih ingin bisa duduk bersama mendengar gagasan besar untuk bangsa atau sekedar berbagi tawa.

Tapi, saya juga gak punya nyali untuk meminta maaf atau sekedar mengajak bercanda. Seperti Tulus di lagunya:

Perdebatan apapun menuju kata pisah, izinkan aku pergi dulu, kau harus percaya ku tetap teman baik mu.

Iya, gue masih mau jadi teman baik kalian, masih…

Advertisements

One Comment Add yours

  1. usagi says:

    karena hidup adalah bagian dari memilih,,
    semakin kita menua semakin kita dihadapkan kalau idealisme dan kenyataan tu bertolak belakang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s