Perempuan dilimitasi perasaan

“Perempuan memang nggak selalu benar. tapi dalam masalah perasaan, perempuan harus dibela.” – posted by a blogger in tumblr.

Saya yakin (at least menurut keyakinan saya) bukan hanya si mbak blogger ini yang pernah meyakini quotesnya itu. Tapi banyak perempuan termasuk saya pernah merasa, berpikir, dan meyakini bahwa sebagai perempuan seharusnya saya dibela perasaannya.

Sementara saat itu saya belum terpikir bahwa semua manusia di bumi yang seuprit dibanding semesta ini pasti memiliki perasaan. Ya, banyak perempuan lupa. Laki-laki, perempuan, atau yang tidak memilih keduanya selama dia manusia pasti punya perasaan. Sama, kita semua sama.

Sama-sama punya perasaan. Lalu kenapa harus mengemis untuk dimengerti atau dibela? Kenapa harus mereduksikan pilihan hidup menjadi perempuan? Instead of membela diri dari kesalahan atau kelalaian, just admit it as a human, not because you are a woman or man.

Soal dimengerti:
Saya telat karena kelamaan pakai eyeliner atau alis, telat karena baju tiba-tiba dikencingi kucing. Laki-laki juga bisa telat karena buru-buru nyukur jenggot terus dagunya berdarah, bisa juga laki-laki telat karena hal-hal perintilan waktu bersolek. Semua manusia punya potensi kelalaian atau kesalahan yang sama karena hal-hal sepele atau berat yang sama.

Soal perasaan:
Perempuan memiliki perasaan yang lebih halus dan lembut dibanding laki-laki. Buktinya dibentak sedikit bisa nangis. Ada gak perempuan yang dibentak gak nangis? Ada. Ada gak laki-laki yang dibentak nangis? Ada. Bukan soal presentasinya, tapi sama-sama ada. Semua manusia punya standar emosi/rasa/hasrat (yang gak sama memang kadarnya, at least sama-sama punya).
Laki-laki bisa selingkuh, perempuan juga bisa selingkuh. Laki-laki memberi bunga, laki-laki juga menerima bunga. Perempuan menerima cinta, laki-laki juga menerima cinta. Nolak? sama-sama bisa nolak. Semua manusia, mahluk, umat punya hak memberi dan menerima yang sama tingkatannya. Kita semua punya hak dan kewajiban yang sama untuk bahagia karena punya perasaan. Asal tidak direduksi oleh kitanya sendiri.

Kenapa perasaan jadi melimitasi kemampuan kita(perempuan) untuk dimengerti dan memberi pengertian?Β Kenapa perasaan jadi melimitasi kemampuan kita(perempuan) memilih siapa yang dicintai dan mencintai?

Kenapa perasaan menjadi titik kelemahan (untuk dibela)? Bukan kah perasaan justru sumber kekuatan perempuan untuk mengandung dan melahirkan? Sebesar itu kekuatannya, apa yang harus dibela?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s