Agar ‘gading’nya tetap lestari

on

elephant

Devide et impera politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba.

Pada artikel kompasiana yang saya dapat, dipertanyakan apakah devide et impera adalah cara yang memang harus diterima (nasib) atau kebodohan bangsa? Menurut saya ini bukan soal keduanya. Ini memang senjata psikologis paling ampuh sepanjang masa (saja memang). Jadi bukan nasib, dan bodoh atau tidaknya pasti bergantung pada kesiapan mental setiap individu.

Tetapi memang, pada sejarahnya cara ini membuat Belanda sukses berkarya dan pada akhirnya menimbulkan perang saudara di negeri ini. Pada kenyataannya juga trik busuk ini terus digunakan hingga sekarang untuk memecah konflik dan lagi-lagi perang saudara. Bahkan, di dunia imaji sekalipun: Tony Stark tidak membiarkan kepalanya untuk tetap berpikir dingin, ego dan kemarahan mengalahkan nilai-nilai kebaikan yang ada di dalam dirinya. Lagi-lagi mahluk bernama Devide et impera ini menang.

Tidak perlu jauh-jauh ke sejarah, issue nasional, ataupun film fiksi. Adik saya sendiri (sewaktu SD sampai SMP) sering menggunakan taktik ini untuk mendapatkan hal yang diinginkan. Lebih hebatnya dikombinasikan dengan keahlian playing victim. Menjadi lemah, tidak berdaya dan memantulkan penyebabnya kepada saya, lalu kemudian Ibu yang mendengar ceritanya akan menjadi kesal kepada saya. Sehingga pesaingnya (saya) menjadi kalah telak, bola basket yang saya inginkan akhirnya dibelikan untuk dia, bukan untuk saya, kampret.

Karena saat itu dia masih kecil, jadi termaafkan dengan pembenaran ‘dia belum mengerti mana salah mana benar’. Apa jadinya jika itu dilakukan oleh Belanda? Muncullah Bung Karno dengan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila-nya. Apa jadinya jika dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk memecah konflik agama atau adat? Mungkin perang saudara, mungkin juga ikrar-ikrar perdamaian.

Lalu kemudian apa yang akan terjadi jika adik saya di kala SMP itu kembali muncul dengan wujud yang berbeda (teman, yang lebih dewasa daripada saya dan harusnya mengerti salah dan benar)? Berminggu-minggu saya menimbang-nimbang apa yang seharusnya saya lakukan. Haruskah saya sebaik Steve yang masih tetap membuka kesempatan kepada Tony? Sebaik itu kah saya? atau justru menjadi Tony yang akhirnya tidak mendapat apapun karena menyerahkan dendamnya kepada Ego?

Saya teringat perbincangan pendek dengan Kak Herry “Orang itu bukan hitam dan putih, kalau dia jahat bukan berarti dia gak baik, begitu sebaliknya. Kayak loe ngeliat gajah aja din, mau lihat bokongnya, belalainya, kupingnya, atau gadingnya?”

Ya, saya belum melihat gadingnya, harus ada kesempatan untuk dia atau agar saya belajar.

Setidaknya, saya belajar: Bahwa Devide et impera itu bukan peninggalan (nasib) bangsa. Tetapi senjata psikologis yang dimiliki setiap manusia (termasuk saya) dan lebih baik jangan sampai digunakan.

Agar gadingnya tetap lestari dan dunia tetap berseri. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s