Kenyal

on

kenyal

Kondom, karet balon yang sama sekali belum pernah saya sentuh, sekalipun bungkusnya. Entahlah, menurut saya gak penting dan belum ada kebutuhan untuk  menggunakan. Sampai tadi pagi untuk pertama kalinya saya benar-benar memegang dan memperhatikannya dengan seksama, meskipun dari luar bungkusnya. Terus terang (tadi pagi) sebagai perempuan saya malu ketika menemukan benda kenyal itu di laci meja saya, yang sebelumnya laci tersebut digunakan oleh seorang perempuan. Berusaha tetap santai saya mencoba untuk tertawa (bingung), tapi kemudian seorang teman bilang: “Iya, itu buat jaga-jaga aja. Siapa tau nanti juga kamu butuh.”

Siangnya saya coba membuka obrolan mengenai si ‘karet’ tadi. Kesimpulan yang saya dapat, dunia saya yang baru ini memang sudah seterbuka itu soal seks. Yaaa, Seks memang kebutuhan dasar manusia. Sama seperti makan yang juga merupakan kebutuhan dasar. Ada gak yah yang bisa hidup tanpa makan? Atau tanpa seks? Mungkin ada, tapi saya gak tahu.

Ada gak yang gak bisa dapat makan di rumah? Banyak, sampai harus mengais di pinggir jalan pun ada. Sama seperti yang diusahakan oleh seorang Bapak di TransJakarta beberapa tahun lalau, yang akhirnya membuat rok saya menjadi sedikit basah. Sama kan seks dan makanan? Sama-sama diusahakan untuk dapat di mana aja, karena itu adalah kebutuhan dasar.

Tidak peduli makanan itu sudah matang atau belum, ketika lapar, ya harus makan. Ketika butuh, ya harus making love dengan siapapun, tidak peduli dapat dari pasangan hidup di rumah, beli di toko-toko terdekat, atau mengais di pinggir jalan.

Pasti teman-teman mulai menebak arah tulisan saya kali ini. Soal #NyalauntukYuyun. Mungkin iya, tapi bukan hanya itu sumber kekesalan saya. Tadinya saya tidak ingin seberisik ini, pertama kali membaca postingan teman-teman soal #NyalauntukYuyun saya hanya diam. Saya bingung, takut salah komentar, Yuyun ini seorang Anak, 15 orang yang lapar itu juga seorang anak dan akan dipenjara sampai nanti kira-kira mereka berusia 30 tahun. Apapun komentar berikutnya soal Yuyun pasti akan menjadi salah atau benar. Jadi berhenti sampai di kejelimetan isi kepala saya soal “kedua pihak adalah anak”. Tapi intinya, lagi-lagi seks ini memang kebutuhan hidup manusia yang sudah mengenal nafsu birahi (dan saya gak tahu standar pasti usia seorang manusia mengenal birahi).

Berikutnya tadi malam, seorang teman bercerita mengenai kelakuan bos barunya yang tidak mendapat kekenyangan di rumah. Sampai harus mengirim pesan singkat kepada teman saya “Tadi malam aku tidur gak pakai CD, gerah” Oke, mungkin aja maksudnya Compact Disk, tapi apa Compact Disk itu untuk dipakai dan menghindari dari kegerahan? Ya, lu olang paham lah maksud ai. Kali ini soal kebutuhan dasar yang tidak terpuaskan, mungkin istrinya hanya masak sayur. Jadi Si bos ini harus mencari ayam gratisan di luar rumah. Tapi teman saya bukan Ayam, Bosss. Dia manusia yang sayangnya tidak berani untuk tegas.

Takut, dan tidak berani. Itulah salah satu permasalahan yang saya, Yuyun, dan teman saya hadapi ketika harus menghadapi kondisi-kondisi di atas tadi. Mau nyalahin kami? Silahkan, saya sangat berterima kasih kalau ada yang bersedia menasihati.

Tapi, saya juga ingin menyampaikan sesuatu. Boleh kan?

Kak Angga juga sempat bilang “Pemerkosaan itu bukan nafsu tapi abuse of power. Bukan karena berpakaian minim, tapi karena laki-laki tidak bisa mengontrol dirinya. Selama perempuan disalahkan atas pemerkosaan terhadap dirinya, selama itu pula hewan dalam tubuh laki-laki itu ada.” Yess, saya setuju. Harusnya bukan karena pakaian wanita. Tapi kemudian itu menjadi pemicunya, mungkin iya. Nah, yang harus dikontrol itu apa? Dirinya? Nafsunya kan? atau bukan? lalu apa?

Saya masih sampai di pemahaman ini soal kebutuhan dasar yang dibuat tabuh. Sehingga orang malu untuk mengakui bahwa dia butuh atau tidak terpuaskan, lalu diam-diam, gak kesampaian, dan jadinya ada kekuatan besar (entah apa itu) yang membuat manusia lupa bahwa dirinya bukan binatang.

Saya sekedar membayangkan, kalau seks ini diakui secara terbuka menjadi sebuah kebutuhan dasar. Lalu digalakkan edukasi secara massal yang sama seperti makan. Dimulai dari ASI, makanan pendamping ASI, dan seterusnya hingga usia berapa tubuh manusia bisa aman melakukan hubungan seks. Atau malah ini sudah dilakukan oleh banyak lembaga? Tapi saya yang tidak tahu karena lingkungan saya masih menganggap seks adalah hal tabuh bukan kebutuhan dasar?

Saya gak tahu.

Setelah ini pasti akan ada pertanyaan seperti: “Lo sama aja mendukung seks bebas din, kalau sama kayak makanan berarti bakal ada warung khusus untuk beli seks dan resmi?” Memang sudah ada toh? Besaaaar dan sukses pula, tapi resmi gak? Kalau tentram-tentram saja sampai bisa menghasilkan kekayaan berlimpah, menurut teman-teman itu dilindungi aparat gak? Kalau aparat aja melindungi, berarti? *silahkan diartikan sendiri*

Saya tidak bilang mendukung seks bebas. Saya mendukung kalau itu dijadikan biasa aja seperti makan. Jadi anak-anak juga gak penasaran dan gak akan ada #NyalauntukYuyun jilid 2.

Cukup buku dan kisah romantis saja yang dijilid, jangan ceritamu Yun. Semoga kasus mu tuntas di kepolisian Yun, gak seperti kondom yang saya pegang hari ini, kenyal!

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. usagi says:

    Selalu suka sama cara mu bercerita dincee
    Kadang frustasi
    Kadang marah
    Kadang bahagia
    Tpi gw percaya bahwa apa yg tertulis dan ada disini adalah certa seorang dinda yng jujur dan apa adanya
    Mnuliskan ttg keresahannya

    1. veskadinda says:

      Haiii kak, lama tak bersuaaa..
      Haha maaciiwww kaka cantik masih jadi pembaca setiaaaaa…
      We have to meet ASAP, aku belum sempat kasih selamat untuk kamu :*

      1. usagi says:

        ayuklahhh,, kapan2 nongkrong2,, kita,,makasih dince,,datang yaa nanti ,,

  2. Ara says:

    Cakep, dind!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s