Makmur dan Beradab? Mana dulu?

gambar-lukisan-pasar-tradisional
Courtesy by: https://mashuripelukis.wordpress.com/tag/lukisan-pasar-tradisional/

Sering kali hal-hal yang ringkas, instan, dan cepat membuat saya lupa pada hal-hal sederhana seperti pasar. Rasanya sudah setahun lebih saya tidak pernah masuk ke dalam pasar, kalau hanya sekedar menunggu lima sampai sepuluh menit di parkiran, mungkin sering.

Kembali ke pasar, yang saya ingat pasar itu selalu ramai,  pengap, dan bau daging (saya selalu muntah setiap kali melihat daging mentah, entah kenapa). Tapi tidak untuk hari ini di jam yang biasanya ramai. Tempat bertukar kebutuhan ini menjadi  lebih sepi, cukup menyenangkan sebenarnya untuk saya yang malas berhimpit-himpitan. Tapi pasti tidak menyenangkan untuk para pedagang, terutama Ibu Lastri yang jelas-jelas mengeluh kepada pelanggannya (tante saya) “Iya, lagi sepi bu. Biasanya kalau sabtu aku cepet pulang, sekarang mah boro-boro deh.”

Bu Lastri menjual bahan-bahan untuk membuat aneka sayur-mayur. Kali ini Ibu Kaka (tante saya) membeli bahan mentah untuk sayur sop. Saat akan membungkus, Bu Lastri lupa kalau kentangnya ada di bawah dan tidak terjangkau oleh tangannya. Dengan santai dia bilang “Coba tolong itu diambilin kentangnya di bawah.” Ibu kaka pun dengan senang hati mengambilkan.

Tidak lama, Ibu Kaka juga meminta yang lain “Cabainya belum dibungkusin mbak? mau juga dong.”

Ibu penjual sayur berkaca mata ini mengatakan sesuatu yang membuat saya kaget “Ya, kan Ibu belum nanyain cabenya tadi, mana berani saya nawarin.”

Ibu Kaka butuh bahan makanan, Ibu Lastri juga butuh uang, mereka bisa saling menyepakati harga dengan tutur kata yang sangat santun. Sehingga mereka juga bisa saling melayani kebutuhan dengan sangat beradab.

Saya teringat kejadian beberapa hari lalu di salah satu swalayan besar nan maisntream. Seorang pengunjung menjatuhkan produk secara tidak sengaja, dan malah sengaja meninggalkan, tidak dibereskan. Kemudian datang pramuniaga membereskan produk-produk tadi sambil menghela nafas. Coba pikir, jangankan minta tolong diambilkan kentang oleh pembeli, minta tolong untuk merapihkan yang diberantakin saja mungkin gak berani.

Sering kali pula saya sebagai pengunjung swalayan ditawarkan macam-macam produk untuk diminum, dicoba, kemudian ditawarkan dengan menggebu-gebu untuk membeli. Lalu saya menelan ludah ketika melihat beberapa produk yang harganya terlalu mahal bagi saya atau mungkin bagi pengunjung lainnya. Sehingga sering kali kami pun berpikir: “Kan gue beli produk mahal, yaudah layanin gue dengan baik, kerjain aja apa tugas loe, produk jatuh kan gak sengaja, ya SPG-nya aja lah yang beresin.” Ya, saya jadi terlalu congkak, bahkan jika mendapat barang reject, akan tega meminta pramuniaga untuk menukar meskipun lorongnya cukup jauh.

Pasar dan Swalayan menjadi satu tempat yang sama *padahal*, di mana setiap orang bisa melakukan transaksi untuk bertukar kebutuhan. Swalayan, tempat di mana *menurut saya* mendekati kemakmuran justru sering kali tidak menunjukkan keberadaban.

Sementara pasar, ramai, pengap, sering kali membuat saya muntah, dan menurut saya belum mendekati kemakmuran justru mengajarkan saya untuk tetap santun, santai, dan beradab.

Jadi gimana? Harus menunggu makmur kah untuk bisa jadi bangsa yang beradab?

Picture-Courtesy by: https://mashuripelukis.wordpress.com/tag/lukisan-pasar-tradisional/
Advertisements

One Comment Add yours

  1. usagi says:

    karena di pasar masih ada nilai2 kemanusiaan,,
    masih ada orang yang ngobrol buat bertegur sapa,,,
    beda banget sama di swalayan,,kehidupan lebih individualis,, dan nafsi2,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s