Part 1 – Setelah Hujan

When you love someone
Just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…

Lumrahnya memang seperti potongan lagu Endah & Rhesa itu. Tapi mimpi tidak selalu harus dideklarasikan, sekedar menyimpannya dan menunggu reda hujan, hingga pelangi datang pun tak masalah. Hidup soal pilihan bukan?

Syifa memilih sabar hingga warna-warninya datang. Alih-alih percaya pada doa, ia hanya menengadah pada langit. Entah ada apa di atas sana yang sengaja meletakkannya di salah satu sudut bumi. Dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan padatnya jalan yang tak pernah bisa ditoleransi.

Ia merindu pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, urutan post it yang digambar dan dipajang di sudut meja, seperti itu urutan rona yang ingin ia lihat dari balik kaca gedung tinggi tempat ia berdikari.

Setiap hujan, setiap kemungkinan datang pelangi, setiap itulah ia mengulang dalam ingatan kisahnya bersama Dicky. Ratusan hari sebelum senja kali ini. Malam hari di sebuah kedai kopi, memintal kisah tanpa cinta, membuka diri tanpa kasih.

“Jadi perempuan itu sulit Ky, gak bisa kami memilih.”

“Saya percaya cinta itu untuk dikejar Fa, seperti batu yang diteteskan air, lama-lama bolong kan?” Ucap Dicky.

Akhir dialektika malam itu terdengar cukup klise untuk dua muda-mudi yang belum terpaut rasa. Entah bagaimana nalarnya bekerja, Syifa menyimpulkan Dicky adalah batu dan ialah airnya.

Tapi, senda dan gurau menjadi gula pada porsi yang pas untuk melebur bukan mengikat. Ampasnya kemudian menjadi sisa yang membekas pekat pada salah satu dinding gelas. Kering dan berkerak mengalahkan hitamnya debu di kaki lima Jakarta.

Syifa jelas tahu diri kepada siapa ia coba melukis pelangi, cangkir berbahan porselen paling mahal, hanya diperuntukkan pada kalangan bangsawan di zaman patih Gajah Mada. Tak setara dengannya yang hanya kendi berbahan tanah liat. Setidaknya ini benar dibuktikan dari perkataan Dicky beberapa senja setelah malam itu.

“Kamu punya yang mereka tak punya, kamu lengkap. Tapi ada satu yang penting bagi saya dan kamu tak punya, lihat ini.” Dicky menunjukkan barisan gambar wajah perempuan bergincu penuh pesolek.

Si cangkir yang berkerak melebur kembali menjadi tanah liat. Syifa merekam dengan baik ucapan itu. Ia kalah telak dari gincu dan garis tebal di atas mata. Cinta di hidup yang sebenarnya tak semanis lirik lagu band indi favorit Syifa. Jujur yang diungkapkan tak berdampak sama pada akhir lirik lagu itu.

Dicky menjadi utopia yang mungkin bisa digapai Syifa jika merah, jingga, kuning, dan lainnya terlukis setelah hujan. Tapi bukan kah pelangi itu sendiri adalah utopia?

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s