Pahlawan metropolitan

kamisan_ayas

Jakarta hari ini mungkin tenang, hanya suara riuh rendah para pekerja berebut masuk lift di gedung-gedung tinggi metropolitan. Bising hanya akan terdengar sore nanti, saat lengan kemeja telah di gulung hingga ke siku, saat wajah-wajah pekerja bersaing kusut dengan pakaian.

Ketenangan itu tidak bisa saya nikmati ketika harus mengecek isi percakapan di aplikasi WhatsApp. Ada pilu, gelisah, dan tagihan janji yang menuntut untuk dituntaskan. Beragam poster dengan wajah seorang pemuda berkumis tanpa urat takut, lantang, konon tengah menyampaikan kebenaran, saat itu – saat alat komunikasi belum menunjukan taring demi kebenaran, saat pemuda masih polos dan rentan didustakan. Saat arsenik akhirnya sukses membungkam si pahlawan.

Munir namanya, orang yang tidak membiarkan tiang bendera berdiri tegap sementara rumput di bawahnya diinjak, rusak, bahkan mati. Pahlawan bagi yang kini merdeka untuk untuk bersuara. Kenyamanannya dikorbankan demi anak-anak bangsa.

Adakah yang melanjutkan perjuangannya? ADA!

Ayas, orang muda yang saya kenal dari sebuah aksi penuntut janji. Sederhana,  sekedar membantu orang tua yang ingin dipertanggungjawabkan nasib anaknya, yang hilang dan mati di negerinya sendiri. Belasan orang tua ia coba pahami, Ayas menjadi sosok pahlawan bagi saya, yang rela mengorbankan kenyamanan, gelar sarjana kriminologi ia kesampingkan. Bagi perempuan tangguh ini, bekerja di klinik kecantikan milik salah seorang korban 65 lebih bernilai. Dibanding mengikuti arus zaman di dalam lift gedung metropolitan bersama belasan karyawan yang belum merdeka dari keseharian.

7 September 2004 Munir mati diracun, 12 tahun setelahnya tanpa disangka ratusan pemuda beraksi menggelar diskusi, menyebar pamflet dan bergerak untuk merawat ingatan.

Hari ini, beragam undangan dikirim untuk merawat ingatan pemuda akan luka bangsa. Bukan untuk menghujat atau mencemooh para pemimpin. Pemuda macam Ayas atau yang lainnya sekedar ingin melanjutkan perjuangan Munir yang telah membebaskan suara mereka, kami, atau mungkin saya.

Sampai jumpa di aksi kamisan, di diskusi tentang kemanusiaan, di hari peringatan pengorbanan sang pahlawan. Semoga kita tidak sama-sama tersesat pada percepatan arus zaman, dan terjebak di dalam lift metropolitan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s