Dinda, Relawan dan TurunTangan

dinda&turuntangan.jpg
“Menjadi Relawan TurunTangan melampaui limitasi yang pernah saya buat sendiri”

Tulisan ini dibuat untuk seorang apatis yang mempertanyakan arti sebuah kerelawanan kepada saya beberapa minggu lalu. Saat diberondong beberapa pertanyaan, saya sengaja hanya menjawab simple-simple saja atau sesepele “emang hidup gue kurang kegiatan aja, jadi bawaannya pengen ini itu, bikin banyak hal.”

Tapi sebenarnya tidak sesederhana itu, kalau si apatis ini menilai banyak orang diuntungkan dengan kegiatan yang saya tekuni dan nilai-nilai yang saya perjuangkan. Maka kebalikannya bagi saya, justru saya banyak diuntungkan di sini.

Izinkan saya bercerita (CUKUP PANJANG) tentang satu wadah kerelawanan di mana saya mendapat banyak benefit di dalamnya, TURUNTANGAN. Dari ribuan relawan yang ada, mungkin bukan hanya saya satu-satunya yang merasa berhutang ilmu di sini, semoga bukan hanya saya.

November 2013 saya mendaftar via website.
Maret 2014 pertama kali saya berkegiatan di TurunTangan bekasi.

Pertama kali berkegiatan I dont expect TurunTangan is a Political Movement. Tapi tanpa diduga justru saya belajar dari Aditya Ryan mengenai kampretnya perpolitikan Indonesia.

Bersama dia, Risa, Okky, Mas Tommy, Kak Dessy, dan Kak Zakky, kami membuat rekomendasi rekam jejak calon-calon anggota DPR dan DPRD Kota Bekasi. Hal yang tidak masuk ke dalam wish list hidup saya. Satu yang menantang saat itu adalah bahwasanya politik di negeri ini belum cukup diurus oleh orang-orang yang bersih dan berkompeten.

Skill baru yang saya dapat – sepele tapi penting yaitu “skill kepo’in pejabat publik.”

Mei 2014 Bagus Handoko merekomendasikan saya untuk menjadi tim creative di TurunTangan Pusat, ingat betul orang pertama yang meng-interview saya adalah Mas Ardi Wilda, baru setelahnya Mba Hani Fibianti. Maka saat itu resmi lah saya menjadi Relawan Magang di TurunTangan Pusat.

Satu hal yang paling MEMBEKAS di jantung, kepala, dan kuping adalah teguran dari seorang Monika Halim mengenai desain sticker ucapan Idul Fitri. Seperti ini yang dia katakan di depan banyak orang saat itu: “Kalo loe tempel itu di kaca rumah, loe mau gak kira-kira?”

Berkat supervisi beliau, mulai hari itu perlahan hasil-hasil desain saya menjadi lebih baik, bernilai, dan layak tampil.

Agustus 2014 selesai masa magang, saya kembali menjadi zombie kapitalis dan relawan biasa yang sebisa mungkin tetap aktif berkontribusi bukan hanya jempol dan mulut.

Desember 2014 sebuah project bertajuk Kelas Negarawan Muda diinisiasi di TurunTangan Jakarta, saya turut aktif membuat kebutuhan-kebutuhan desainnya.

Di saat-saat ini lah proses kerasnya kehidupan menjadi Relawan dimulai. Bersama Kak Tika, Kak Andres, Kak Herry, Kak Masrha, dan Kak Angga, saya belajar berdialektika, berdebat, mengadu ide dan gagasan untuk KNM ke depan. Berkali-kali kami rapat hingga larut, paling cepat selesai jam sebelas malam.

Karena mereka cara berpikir saya mulai terbentuk, yang selalu diingatkan kepada saya adalah agar tetap berpikir dengan struktur yang jelas, Kak Angga selalu bilang: “Kritis boleh tapi jangan sampai logikanya jadi cocoklogi.”

Juli 2015 Herry Dharmawan membuka pintu untuk saya kembali bergabung, kali ini menjadi officer di TurunTangan Pusat.

Rekrutmen yang ditawarkan kepada saya adalah untuk menjadi desainer officer. Berjalannya waktu justru Mba Aida Fitri banyak memberi kesempatan kepada saya belajar mengerjakan hal-hal di luar desain.

Pertama, belajar menjadi fasilitator relawan. Bukan hal yang mudah, seperti menjadi HR kalau di perusahaan swasta. Belum lagi kalau relawannya demanding, paling menyenangkan kalau relawannya juga inisiatif.HAHA Susahnya menjadi fasilitator relawan adalah tidak boleh mengarahkan hanya memfasilitasi. Nah, Teknik fasilitasi sendiri ada banyak dan mudah dipelajari juga menantang untuk dipraktikan, patron saya dalam hal fasilitasi adalah Kak Herry dan Kak Darul, terbaik lah mereka.

Beberapa bulan pasca Gathering Nasional, saya harus menggantikan Kak Anggun (cuti melahirkan) menjadi PMO bidang Pendidikan. Ini yang paling menantang dan menyenangkan karena harus membuat konsep satu project STEM Based Method dengan minim referensi, semuanya dari enol. Tapi Mba Aida yang super baik hati mengenalkan kami dengan Mas Kiki. Beliau mentor di TurunTangan untuk teknik Management Project, Pitching Donor, and how to think effectively.

Menjelang pergantian tahun, Mas Ananda Siregar dengan murah hati membuat pelatihan untuk para officer di turuntangan. Kami diberi serangkaian materi teknik leadership, bukan tentang bagaimana menjadi leader yang baik. Tapi technically how the leader work and build a team. Membagikan kami ke beberapa quadrant dan menjelaskan kelemahan juga kelebihannya. Hal yang paling saya ingat dari Mas Nanda adalah perkataannya tentang sebuah tim: “a chain is only as strong as its weakness link.”

Februari 2016 saya mengundurkan diri menjadi officer dan mendapat kesempatan berkarier di lembaga internasional, dan saya MASIH TETAP menjadi Relawan di Gerakan TurunTangan.

Juli 2016 dengan kesepakatan bersama relawan lainnya saya didapuk menjadi Project Leader Kelas Negarawan Muda menggantikan seseorang yang konon tidak mungkin tergantikan. BERAT rasanya.

Dari menjadi relawan, lalu officer, relawan lagi, officer lagi, dan sekarang masih menjadi relawan lagi. Almost 3 years, arti kerelawanan di TurunTangan bagi saya bukan lagi sekedar menjadi manfaat untuk orang lain, tapi justru banyak hal yang telah dibekali kepada saya untuk tetap disumbangsihkan kepada relawan itu sendiri.

TurunTangan membuktikan bahwa pemuda yang pernah tidak naik kelas sekalipun bisa membuat perubahan jika diberi kesempatan. Menjadi Relawan TurunTangan melampaui limitasi yang pernah saya buat sendiri.

Jika malam ini seseorang yang sangat apatis bertanya (lagi) kepada saya masih kah akan menjadi relawan di TurunTangan?

MENURUT MU?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s