Tetap Menjadi Manusia

“Haidar!!” Dari balik bilik kerja seorang kawan memanggil staff IT favorit kita semua. Dia sedang dilanda kesulitan mencetak gambar di mesin pencetak.

Berjarak lebih dari 3 meter, Haidar menggerutu “Ada telefon lho, kenapa mesti teriak.” keluhnya sambil tetap senyam-senyum.

“Loh, ini justru menjaga kita tetap seperti manusia.” Timpal Kak Gibthi.

“Lah, gimana coba, kan ada telefon.” Timpal Haidar lagi.

Sering kali, di keseharian saya menemukan (bahkan) diri saya sendiri berbeda pilihan dengan orang-orang di sekitar. Di setiap pilihan tersebut lumrahnya kita memberikan pembenaran agar (meskipun berbeda) kita tetap (merasa) ada di posisi benar. Bagi seorang IT staff yang akrab dengan teknologi menjadi aneh ketika melihat saya yang seorang penulis masih gemar menggunakan post it warna-warni untuk merangkai narasi. Sangat menggemaskan juga bagi Haidar, ketika dipanggil dengan suara keras oleh Kak Gibthi alih-alih mendapat panggilan itu via telepon.

Tapi, saya tidak sudi juga kalau dibilang katrok, gagap teknologi atau sebagainya. Itu kenapa saya, Kak Gibthi atau kita selalu membutuhkan pembenaran di setiap pilihan. Haidar merasa teknologi jadi tidak berguna karena orang-orang katrok macam saya, teknologi itu sendiri dijadikan pembenaran oleh Haidar. Saya sendiri merasa lebih mudah berpikir ketika tangan saya juga ikut bergerak menuliskan sesuatu dengan kertas dan pensil.

Akan selalu ada 2 pembenaran di setiap situasi yang bertentangan, memang.

Sesuatu yang berbahaya adalah ketika 2 pembenaran itu justru terbentuk menjadi 2 kubu yang saling menghakimi. Contohnya sudah ada dari zaman setelah Nabi Muhammad wafat. Tenang, tulisan kali ini bukan soal pilihan-pilihan pengikut islam pasca meninggalnya Nabi Muhammad.

Tapi justru tentang pilihan-pilihan seluruh umat (Muda) berjuta-juta tahun setelah (bahkan) semua Nabi wafat:Β Pernikahan..

2015, seorang teman perempuan memutuskan untuk menikah di tengah masa perkuliahan (S1) nya yang belum selesai. “Daripada Zinah kak.” Keputusannya pada saat itu agak sulit untuk saya mengerti. Tetapi yang pasti saya ikut bahagia, setidaknya ia punya pembenaran atas pilihan hidupnya.

Lebih parah dari itu, seorang teman laki-laki saya melamar pacar yang sudah 8 tahun lebih ia pacari, karena merasa rentang waktunya berpacaran sudah bisa menyaingi cicilan rumah calon mertuanya. “Dari si tante mulai pindah ke bekasi din sampai sekarang itu rumah sudah jadi bagus banget, sudah hampir lunas. Anaknya gak juga gue nikahin masa, malu gue.”

Satu minggu setelah itu saya menghadiri pernikahannya dan merasa lega karena sang pacar akhirnya bebas KPR.

Masuk ke lingkungan pertemanan yang lainnya, banyak juga teman-teman yang sudah sangat mapan di karir dan di atas ranjang akhirnya memutuskan untuk menikah, karena cinta πŸ™‚

Setiap dari mereka memiliki pembenaran untuk kita hargai setiap pilihannya

Sama seperti teman-teman yang memilih untuk tinggal bersama tanpa menikah. Saya bahagia mendengar pembenaran dari seorang teman yang tidak ingin potensi dirinya jadi tidak maksimal ketika harus menikah. Maka dia memilih mengarungi hidup berdua tanpa harus terikat oleh pembenaran hukum.

Tidak ada yang salah sama sekali dengan pilihan-pilihan seseorang, selama ia memiliki pembenarannya sendiri.

Keributan-keributan kecil untuk membela pembenaran yang kita miliki terkadang membuat kita lupa, bahwa ada yang lebih penting dari kegunaan sebuah gagang telepon dan melanjutkan kehidupan ke jenjang pernikahan. Di samping itu semua, ada perasaan-perasaan ringkih yang harus kita jaga dari kesakit hatian, ada tindakan-tindakan berani yang harus diberi apresiasi dengan menjawab “Yes I will”. Ada resiko-resiko besar yang akan dengan berani dihadapi oleh Jamie dan Dylan.

Ada diri kita sendiri yang harus dijaga untuk tetap menjadi manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s