Merayakan Kepahitan

Dalam sebuah diskusi cinta dan cangkir kopi, Aprida pernah menjelaskan kepada saya bahwa bagi seorang kristiani: Hidup adalah sebuah penebusan dosa. Pada titik tersebut saya setuju, pernah saya berpikir bahwa (mungkin) di kehidupan sebelumnya saya ini adalah seekor ular liar yang membunuh orang sesuka hati di hutan, di kebun, di manapun saya tersesat.

Itu mungkin kenapa Tuhan membrondong hidup saya dengan kepahitan dan banyak hukuman atas dosa-dosa saya ketika menjadi ular. Tapi sepertinya Tuhan tidak sekonyol itu menciptakan (lagi) mahluk dengan hati dan akal hidup hanya untuk menelan karma.

Yang pasti lebih dari itu..

13 tahun lalu saat isi kepala saya hanya bola basket dan ujian nasional, sepasang orang dewasa – yang menjebloskan saya ke dunia ini – memutuskan untuk berpisah. Di usia belia saya dituntut untuk menentukan sikap, memilih untuk tinggal dengan siapa, dengan lelaki yang sulit mengontrol emosi atau dengan perempuan yang masih belum selesai dengan dirinya sendiri? Pada titik itu saya belajar untuk memilih satu dari (hanya) dua pilihan yang ada.

2 tahun setelah itu, di Jakarta saya kembali dibrondong kesialan harus tinggal kelas (gak naik kelas) karena saya LEMAAAHH menghadapi bully di sekolah, bully bahwa saya ini (sialnya) adalah seorang anak cina.Β  Tapi setidaknya saya belajar bahwa kalau saya LEMAH, maka yang menanggung konsekuensinya adalah diri saya sendiri.

Belakangan saya sadari: Konsekuensi hidup lah yang akan selalu membuntuti kita, bukan soal dosa di masa sebelum bereinkarnasi.

13 tahun setelah terjebak di antara perceraian orang tua, sekarang ini dua-duanya meninggalkan saya..HAHAHAHAHA
Tuhan benar-benar komedian terbaik di dunia ini. Tuhan bercanda sebebas-bebasnya pada hidup saya. bebaaasss…HAHAHHAHA

Ya, pada akhirnya saya mampu mentertawakan hidup, begitu saya menyadari, Tuhan memang senang sekali bercanda.

Bercandanya belum cukup sampai di situ, 2 bulan setelah Ibu meninggal. Tuhan memberi izin kepada seorang laki-laki untuk menyia-nyiakan saya hanya karena si Dinda ini GAK CANTIK, SAYA JELEK, gak bisa menipu matanya. Kurang murka apa saya sama hidup ini? HAAAHHAHAHAHA Bebaassss deh Tuhan maunya apa..HAHAAA

Anggaplah hidup saya ini gak seberat siapapun yang membaca tulisan ini, tapi melalui tulisan ini saya mau bilang:

Dewasa adalah bentuk pencapaian kita atas sangkala-sangkala pahit yang berhasil dilewati.

Sedih boleh, mengutuk kegelapan boleh, tapi jangan lupa untuk tetap menyalakan terang. Cahaya hidup itu bukan untuk dicari tapi kita nyalakan sendiri. Pada akhirnya setiap manusia di dunia ini akan sendirian. Tinggal gimana kitanya aja, sebisa mungkin menyalakan terang dalam setiap kesendirian dan merayakan gelap pada setiap kekalahan. πŸ™‚

Tulisan kali ini adalah cara saya merayakan kepahitan, semoga bisa menjadi pembelajaran untuk setiap dari kita yang sedang menghadapi candaan Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s