Dinda suka kan sama laki-laki?

Minggu lalu pulang lah gue ke Kemayoran, tempat di mana gue lahir dan tumbuh besar, dan di mana rumah emak gue harus ditengokin paling gak sekali dalam sebulan. Di sana bernaung lah para tante, om, dan tetangga yang (anggaplah) mereka over perhatian dengan kehidupan gue. Kenapa gue bilang begitu karena mereka selalu menanyakan hal-hal ajaib yang temen deket gue aja nih gak pernah nanyain begituan. Seperti: “Dinda suka kan sama laki-laki?” atau “Dinda gak kumpul kebo ya sama pacarnya di Sudirman?” atau yang paling mainstream “Dinda gak bosen malem minggu sendirian?”

Ngefeettt emang, tapi mau gimana ya, namanya pikiran orang kan gak bisa kita kontrol, ye gak? Yang paling bapuk nih, hari ini gue dinasehatin sesuatu, sebapuk-bapuknya nasehat yang pernah gue dapet dari seorang yang sudah tua adalah: “Jalan-jalan mulu nih Dinda, makin keren ya kerjanya. Tapi jangan keren-keren lah jadi cewek, gak usah pinter-pinter amat, nanti cowok jadi takut mau deketin, tuh coba makanya masih single kan sampe sekarang.”

Ya Tuhaaaaann, gue mesti ketawa, sedih, apa kek mana? HAHAHAHHAA

Dari sekian banyak pertanyaan dan nasehat yang pernah mereka lempar ke gue, kali ini adalah yang paling ironi. Coba ya mari kita pikir bersama:
Pertama, soal keren. Gue paham sih, indikator keren bagi orang-orang di sini (lingkungan tempat gue lahir) mungkin ya itu, bisa pergi ke mana-mana, belajar di banyak tempat. Tapi sejujurnya nih ya buat gue, ke mana-mananya gue ini adalah tekanan terbesar di dalam hidup. HAHAHHA instead of gue merasa keren, gue malah jadi insecure. Ekspektasi orang-orang terhadap gue (di lingkungan pekerjaan dan organisasi extra kantor) sepertinya menjadi lebih tinggi pasca gue balik dari Jepang. Naaahhh, itu bikin gue jadi ciyuuutt setengah mati. Makanya predikat keren itu jadi kontradiktif dengan kondisi personal gue. HAHAHA

Kedua, soal cewek/perempuan gak usah jadi keren atau pintar.Β  Gimana ya, kan gue disekolahin, justru biar kepala gue nih dipake buat mikir. Nah proses berpikir itu yang bikin gue jadi selalu horney untuk terus belajar hal-hal baru. Itu terdengar jadi terlalu personal memang. Tapi gini, soal perempuan yang kian terus menunjukan “gigi”nya dari tahun ke tahun, percayalah kita nih bukannya pengen saing-saingan dengan lawan jenis. HAHAHA, memang dunia ini makin membuka kesempatan kepada perempuan ajaaaa (IMHO).

Coba nih ya,Β  eloe (apapun gender loe ye) dikasih kesempatan dan pintu selebar-lebarnya untuk mewujudkan cita-cita loe, pasti akan loe ambil kan? Elo nih manusia, pengen banget jadi dosen atau penulis, pengen banget nih loe jadi ahli di bidang tertentu, terus berkat usaha loe sendiri, dapet nih beasiswa atau terwujudlah kegiatan yang loe impi-impikan. Cobaa?? Pasti loe ambil kan kesempatan itu? Masa gak loe ambil cuma karena takut si lawan jenis jadi jippeerr untuk deketin kita. Jangan gitu lah.

Regardless kita ini perempuan atau laki-laki, menurut gue yang namanya cita itu selumrahnya kita wujudkan. Apapun itu yang loe citakan untuk masa depan, yang namanya pernikahan atau pasangan hidup jangan dijadiin alasan untuk kita gak mewujudkan apa yang kita mau. Namanya juga manusia, ada waktunya mereka akan mengecewakan dan mebahagiakan. Nah menurut gue nih, jadiin seorang manusia (orang tua, pacar, suami, isteri, anak, siapapun) sebagai alasan untuk melakukan sesuatu justru bisa bikin makin drop, makin kecewa ketika yang kita mau gak tercapai. Karena bebannya jadi ada dua, sesuatu yang kita ingin dan orang yang kita kecewakan (karena kita jadikan alasan untuk melakukan itu).

Jadi menurut gue, sebagai perempuan justru tugas kita adalah menentukan apa yang bisa membuat diri kita bahagia, biar orang-orang yang kita cintai jadi selalu tertular kebahagiaan dari kita. Gitu gak sih?

I just want to say, it is okay girls, if you are clever than someone, if you are more confident than someone, if you have a higher position than your partner. Dunia ini udah fana, gak pentinglah saing-saingan untuk dapetin nilai matematika, gak penting banget kita saingan sesama manusia cuma untuk nunjukin kita lebih keren dari dia, atau perempuan lebih keren dari laki-laki. apapun itu yang namanya persaingan selalu meninggalkan bercak darah dalam sejarah. Okeeyy, gue ngelantuuurrr… HAHAHHAA

Ya pokoknya, sebagai perempuan, temukan lah kebahagiaan kita sendiri, omongan tetangga, om, tante, teman, loe anggep aja kopi murahan. HAHAHA atau ya bisa loe jadiin bahan tulisan macem gue ini. heheee…

Nah untuk laki-laki juga ya, eh siapapun deh. Yang namanya cinta kan bukan soal persaingan, suami lebih dari isteri, isteri lebih dari suami, perempuan lebih dari laki-laki, atau sebaliknya. Cinta kan bukan soal siapa lebih dari siapa. Mewujudkan mimpi bersamalah yang seharusnya loe jadiin patokan untuk menentukan siapa pasangan hidup kita.

Menurut gue lhooo ini yaaa… (yang nikah aja beloomm…HAAAHAHHAHA)

Eh,coba, ada yang punya pengalaman lebih parah dari gue gak soal komentar orang tentang kita? share doooonggg….

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. kutubuku says:

    Yang tabah ya, komentar orang kita emang suka bikin jeduk2 kepala. Salah satu alesan kenapa kalau aku lagi pulkam nggak mau ketemu orang lain selain keluarga sendiri… karena males dengerin komentar ini itu.

    Kawin/nikah itu butuh kesiapan diri, bukan lomba alias susul2an… kalo ga nikah juga so what, cuman di Indonesia aja yang masih rese urusan begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s