Seterusnya loe akan dilecehkan!

Desclaimer:
Tulisan ini sekedar menjadi pengingat bagi diri gue sendiri untuk gak lagi menjadi bodoh sebagai perempuan. Jika ada yang tidak berkenan, monggoooo diskipp aja ke postingan yang lain..  

Praktek Kerja Lapangan (PKL) di masa SMK adalah pintu masuk pertama gue mendapatkan pelecehan seksual, usia di mana buah dada sedang bertumbuh tapi gak diiringi dengan sexual education yang baik di dalam ruang-ruang belajar (dalam hal ini sekolah dan rumah). Tempat pertama PKL gue adalah sebuah perusahan minyak (gue gak mau ngasih clue itu milik negara atau bukan) yang pasti perusahaan itu memang sudah biasa menerima siswa-siswi PKL dari Sekolah Menengah Kejuruan. Waktu itu gue mendapat tugas untuk jadi asisten sekertaris direktur divisi (sekertarisnya ini laki-laki bukan perempuan). Selama satu bulan di dalam ruang kerja yang cukup ramai tugas gue adalah mengarsipkan nomor-nomor surat masuk dan keluar.

Sialnya, si bapak-bapak sekertaris ini gak bisa menahan libidonya sendiri ketika berpapasan dengan anak PKL-nya (which is gue) di ruang kecil tempat mencuci tangan. Gue juga gak paham kenapa ruang cuci tangannya dibikin mojok dan terhalang tembok.

Gue belom selesai cuci tangan, si bapak ini mepet-mepet di samping dan ikutan cuci tangan – ‘gak sabaran banget’ dalam hati gue ngebatin. Tapiii ternyata dia emang sengaja ikutan cuci tangan di wastafel lalu tangan gue dipegang-pegang, MONY*T! ngapain coba? Matanya ngelirik senyum-senyum manja, minta ditampol tapi gue gak berani!

Nah itu! Gue gak berani! dan bingung seharusnya gue ngapain dan orang itu maksudnya apa kayak gitu. Jadi yang gue lakukan adalah kabur dengan tangan masih sebagian berbusa, parahnya lagi bokong gue ditepuk! Beberapa hal yang melintas di kepala gue saat itu adalah:
1. Kalau gue tendang nanti pasti gue yang tetap salah, malah gue bisa dikeluarin dari sekolah karena gak ada bukti orang ini ngapa-ngapain gue.
2. Kalau gue teriak dan nangis juga sama aja, yang ada gue dibikin tambah malu karena orang itu adalah atasan gue di tempat PKL dan gue cuma siswi SMK yang lagi PKL demi dapetin nilai, saha aing?

Akhirnya gue cuma ngadu ke guru, loe tau guru gue bilang apa? “Ah! kamu kali yang kecentilan, gatel kamu ya. Udahlah PKL mah PKL aja jangan macem-macem.” ya Tuhaaannn, ingin aku berkata kassaarrr, tapi gue gak mau di DO. Hhahahahaha bego banget, padahal kalau sekarang gue pikir-pikir: lebih baik gue dikeluarin dari sekolah daripada dilecehin begitu. Tapiii yaaa gimanaaa, di rumah juga gue masih cupu, belum berani speak up!

Ohiya, kasus pelecehan seksual di tempat PKL gak cuma terjadi pada gue, banyak anak-anak SMK lain bahkan teman sekelas gue sendiri juga mengalami. Kakak tingkat gue di sekolah berbeda pernah ada yang sampai hamil dan pelakunya cuma ngasih uang untuk mengugurkan kandungannya.

Ketika seorang siswa jujur berbicara, layaknya seorang guru percaya dan mencoba mencari solusi, karena kalian lah tempat kami mengadu selain orang tua.

Dan siswa-siswi PKL bukanlah objek untuk memuaskan nafsu pekerja di perusahaan, mereka masih anak-anak bukan pekerja magang di atas ranjang prostistusi!

Masuk masa-masa kuliah, gue ikutan MAPALA. Waktu masih jadi ca’ang (Calon Anggota), masih bego-begonya (again, bego!) Menjelang diklatsar gue diajak ke beberapa kampus untuk minjem-minjem alat. Berkenalan lah gue dengan salah satu Anggota Tetap MAPALA kampus di area cikini (loe tebak-tebak aja sendiri kampusnya apaan). Gue lupa waktu itu alat apa yang mau gue pinjam sampai mengharuskan gue ngambil alatnya di kostan beliau.

Maka berkunjung lah dinda yang bego ini ke kostan laki-laki (untuk pertama kalinya) demi minjem alat untuk diklatsar. Gue pikir begitu sampai, alatnya akan langsung dikasih dan gue bisa lenggang kangkung, tenryata enggak. Beliau yang namanya diambil dari nama kayu kalimantan mengajak gue untuk ngobrol-ngobrol dulu, nonton film star wars (yang gue inget) lalu lagi anteng-anteng nonton, dipegang-pegang lah badan gue. Ya Tuhaaaaannn! Gue masih inget nih rasanya pengen nangis, pengen pulang, pengen teriak, pengen kabur.

Naaaahhhhh, karena situasi tersebut di dalam kamar kostan jadilah gue gak berani teriak, takut kalau orang-orang dateng gue jadi ikut-ikut disalahin. Lagi-lagi karena itu terjadi hanya diantara gue dan orang tersebut jadilah gue merasa gak terlalu kuat untuk meminta pembelaan dari orang lain. Saat itu yang gue lakukan adalah berdiri, ngambil tas, buka pintu kamar dan kabur. Alat yang tadinya mau gue pinjam, gak jadi gue bawa.

Keorganisasian seharusnya adalah tempat untuk seorang yang ‘berilmu lebih’ membagikan akalnya kepada yang baru ingin belajar.

Dua kasus pelecehan seksual yang gue ceritakan di atas terjadi di kala usia gue masih anak-anak (di bawah 18 tahun). Di masa dewasa, belum lama – tahun lalu gue dikirimi link video bokep oleh seseorang yang amat sangat gue hormati, gue mengenal dia bahkan di sebuah forum kepemudaan (forum formal – Youth Forum).

It was shocking for me! Pertama karena beliau lebih tua dan lebih berwibawa even then me, kedua karena gue sangat menghormati dia sebagai Kakak Mentor, ketiga karena sebenernya gue menyayangi orang ini lebih dari sekedar mentor, tapi koq ya sekotor itu harus ngirimin gue link video bokep.

Saat gue tanya “ini apaan?” jawaban dia cuma “buka aja”.

Si blo’on, dari nama linknya aja gue udah tau itu apaan, makanya gue nanya “ini apaan” maksudnya itu gue nanya: ‘Nyet! maksud loe ape?’

Karena gue gak mau zuudzon, gue buka lah itu link, eh bener isinya video bokep cewek jepang. Gue tanya lagi lah di chat “Ini apaan sih maksudnya ngirimin beginian?”

Dan jawaban beliau “Gimana? Suka kan? Mau?”

‘Settaaan’ dalam hati gue, iya di dalam hati gue doang. Chatnya gak gue bales lagi, dan gue jadi takut ketemu orang tersebut hingga kini. haha

Gue tau, respon gue salah, harusnya gue gue bilang dengan tegas bahwa itu mengganggu, bikin gue gak nyaman dan loe gak sopan nyet. Harusnya gue bilang gitu, tapi emang dasar (pada saat itu) gue belom paham bagaimana harus bersikap asertif. Jadi ya gue cuma diem aja. Sampai detik ini, orangnya gak gue tegur. Ya semoga melalui tulisan ini beliau menjadi paham, bahwa kelakuannya itu bikin orang gak nyaman.

Dari semua pengalaman (yang menurut gue adalah) pelecehan seksual itu, hari ini gue belajar bahwa speak up itu penting.

Sekali aja loe gak berani ngomong atau ngelawan, maka seterusnya akan seperit itu, seterusnya loe akan dilecehkan.

Nah buktinya aja gue sampai tiga kali di usia anak sampai dewasa, karena gak pernah berani, gak pernah mencoba jadilah terus-terusan kejadian seperti itu.

Maka mulai dari sekarang, siapapun kalian, belajar lah untuk berani speak up! Tapi ingat, tetap sopan jangan juga dikata-katain orangnya. Apa bedanya kita sama mereka kalau kita juga memperlakukan mereka seperti binatang 🙂

Untuk orang-orang yang belum pernah dan jangan sampai pernah mengalami pelecehan seksual. Perayalah, gak mudah untuk orang akhirnya bisa berkata jujur dan berani mengungkapkan apa yang dia alami. Jadi cobalah untuk memehami dulu sebelum menghujat, atau minimal diem aja udah sangat membantu. Daripada jadinya nyampah dan bikin orang yang mengalami pelecahan semakin bingung harus berbuat apa. Hujatan-hujatan kalian itu gak akan menyelesaikan masalah, ingat! bisa jadi besok, di masa depan, kalian atau anak cucu kalian yang akan mengalami 🙂 Kalau kita cuma menghujat si korban, pelecehan seksual akan terus ada, menjamur di mana-mana.

Tabik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s