Sebuah Konjungsi

Mulai dari nol lagi untuk menulis di blog ini, selama satu tahun lalu gak ada satupun tulisan yang saya publikasikan di sini. Tentunya saya mencoba, beberapa kali menulis, tapi gagal total karena beberapa perasaan yang timbul: takut dihujat, takut dicap, takut gak punya teman lagi, takut menyinggung dan takut-takut yang lainnya.

Kalau ada satu paket lengkap menuju menjadi orang dewasa adalah saya di tahun lalu. Gagap dengan pertemanan yang ternyata harus dipilih. Kusut memahami konsep ‘Kalau orang berkata A belum tentu berarti A, bisa jadi dia bermaksud mengirim sandi agar saya melakukan B’. Atau yang lebih parah saya sibuk mengamini perkataan teman soal berapa kalori, lemak dan protein yang harus dikonsumsi agar bisa masuk ke dalam kategori konstruksi sosial area sudirman, GOBLOK ya gue HAHA. Di banyak hari, saya juga disibukan dengan sekian banyak dokter. hehe..

Tahun lalu cukup menjadi sebuah konjungsi untuk alinea baru tentang diri saya sendiri.

Bukan lagi tentang orang-orang yang ingin saya bahagiakan tapi diri saya sendiri yang harus dinomorsatukan. Tentu saya masih punya rasa takut tentang perjalanan berikutnya yang begitu panjang. Cerita-cerita yang belum tentu mudah ditulis, yang pasti sulit ditentukan adalah kapan koma dan titik harus saya letakan. Di tengah-tengah, mungkin akan ada lagi alpa atau bahkan lalai akan kewajiban, tapi semoga saya kian paham cara merayakan kegagalan. Syukur-syukur bisa banyak tawa soal keberhasilan.

Saya ingin lebih banyak menulis tentang diskusi ringan dan berat bersama teman, bukan lagi apa yang saya temukan di media-media sosial. Cukup rasanya, kemarahan dan kekecewaan disebarluaskan. Saya juga ingin lebih banyak mengayuh si Brams (sepeda kesayangan). Semoga juga banyak cerita yang bisa saya tulis di balik karya-karya pekerjaan.

Saya sadar, terlalu banyak semoga yang harus disegerakan.

Yang paling dekat harus saya segerakan adalah kembali berbagi cerita, masalah, keresahan dan tentunya bahagia. Entah bagaimana caranya berbagi tanpa menitipkan, tapi seperti menyelesaikan rubik, kalau saya ingin pelajaran jangka panjang, bukan tutorial youtube jawabannya, tapi terus mencoba.

Percobaan-percobaan itu nanti semoga menjadi konjungsi menuju tua yang menyenangkan, yang aditif, menjadi sebuah penjelas atas usia dewasa yang syarat akan perbandingan dan pembatasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s