Menjadi tombol delete untuk Ibu

on

Setiap hal yang sudah ada begitu aja atau diberikan begitu aja biasanya memang lebih susah dihargai dibanding hal-hal yang kita perjuangkan sendiri.

Satu dari banyak hal itu adalah Ibu. Saking dia terlalu sering hadir di setiap keputusan yang harus saya ambil, sekarang jadi bingung pas dia gak ada. Betul-betul jadi anak ayam kehilangan induk. Keputusan-keputusan yang sebelumnya saya ambil akhirnya selalu berdasar pada “Kalau gue tanya Ibu yang begini-begini dia akan mikir gimana ya?”

Saking seringnya saya berpikir seperti itu, jadi terpikir hal lain, jangan-jangan selama hidupnya, saya sebagai anak cuma bisa ngobrolin soal masalah aja ke dia bukan hal-hal yang senang saya obrolin dengan teman, seperti kenapa petugas keamanan suka salah nangkep orang atau hal-hal lain di luar masalah pribadi yang sedang saya hadapi.

Atau memang hubungan orang tua dan anak akan selalu seperti tombol delete di keyboard, memberikan kita power untuk memperbaiki kesalahan.

Hobi menghilangkan dasi dan topi adalah kesalahan saya yang harus selalu ibu perbaiki. Ibu harus mencari pinjaman dasi ke tetangga karena saya selalu lupa meletakannya di kolong laci sekolah atau di kantin sekolah atau entah di mana. Setiap hari senin pagi, dengan sedikit marah-marah, Ibu akan tetap jalan keluar rumah mencari pinjaman dasi atau topi, karena gak ingin saya dijemur oleh guru piket di lapangan sekolah.

Beranjak dewasa, dasi dan topi itu jadi berwujud gosip-gosip tetangga. Suatu waktu saya sedang di dalam rumah berduaan dengan pacar (tapi udah jadi mantan sekarang). Tiba-tiba segerombol bapak-bapak (sekitar delapan sampai sepuluh orang) datang menggedor-gedor pagar rumah, semacam mau ‘menggrebeg’, waktu itu rumah Ibu masih di Bekasi. Setelah saya jelaskan baik-baik, bapak-bapak tersebut bubar. Tapi karena merasa kesal, saya mengadu ke ibu soal kejadian tersebut, padahal dia juga baru pulang kerja, capek pasti. Besok paginya, dia pergi ke rumah Pak RT, mengeluhkan kejadian tersebut dan meminta agar hal tersebut jangan sampai terjadi lagi.

Setelah itu saya merasa dimenangkan oleh Ibu, lagi-lagi Ibu memberi kesempatan untuk saya bisa tetap berdaya.

Sekarang, saat hidup sedang susah-susahnya, saat saya bingung menentukan langkah berikutnya, saya gak punya lagi tombol delete di keyboard. Meskipun saya gak lagi pakai topi dan dasi merah, banyak hal yang tetap lupa saya letakan di mana, hal-hal yang sering kali cuma ibu yang bisa menemukan. Saya juga sudah gak hidup bertetangga tapi masih ada Bapak Kost yang pernah tanya koq ibu saya gak pernah datang.

Kalau sesuatu yang berharga itu masih ada, saya ingin mendebatkan soal isi pesan whatsapp yang mungkin saja ia lanjutkan kepada saya atau menanyakan kebenaran isinya.

Saya juga ingin jadi tombol delete yang bisa digunakan Ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s