Untuk Ayah yang mengenalkan pahitnya ampas kopi

“Semakin tinggi, semakin dangkal.” Begitu komentar dari seorang teman “baik” atas keputusan besar yang sudah saya lakukan. Pertanyaannya, apa iya saya sudah semakin tinggi? Standar ketinggiannya apa? Mencoba bertanya padaย diri sendiri. Saya bahkan masih amat sangat pendek dari sebatang pohon toge. Keputusan ini menjadi titik NOL bagi saya, kembali menjadi serpihan atom. Bukan untuk menentukan…

Tidak lagi teriak, tapi bersuara!

Beranjak dari satu makna yang diucap sebagai gadis menjadi wanita. Kaya akan kisah dari mereka yang dewasa. Lorong panjang mejikuhibinu kini menjadi RGB dan CMYK. Salah aduk bisa jadi durja bahkan gelap gulita. Wanita bukan lagi soal laki-laki dan cinta, tapi soal teman dan jejak bersama. Gincu bukan lagi demi memikat, tapi menghindar dari pudar….