Perlu gak ya?

Masih soal media sosial, gue jadi banyak kontemplasi selama (sementara ini) menonaktifkan akun instagram dan facebook, bukan berarti hidup gue jadi damai-damai aja karena masih ada yang namanya “Group Whatsapp”. Tapi pagi ini selama mandi, yang biasanya otak gue dipakai untuk mengarungi dunia, gue jadi tiba-tiba kepikiran hidup-hidup mereka yang biasanya gue simak di pagi…

A Reason: Deactivate My Facebook and Instagram Account

After years of using almost all of the social media, I just decided to deactivate my accounts. In terms of friendship, the most affected channel is Instagram and Facebook. So then, if you guys can’t find me on those channels, just don’t worry, I’m not blocking your account, instead, I have gone (maybe for a…

Untuk Bintang, ketiga anak Maria dan Cucu Oma Olivia

Ada seorang teman yang baru-baru ini saya kenal – seorang ibu dari 3 orang anak tanpa bapak, dalam tulisan ini saya akan memanggilnya Maria. Bukan, bukan sama sekali seperti Bunda Maria, teman saya ini adalah  manusia berjenis kelamin perempuan pada umumnya yang telurnya harus dibuahi oleh sperma laki-laki. Di mata suaminya membuahi tidak berarti berjuang…

Dinda suka kan sama laki-laki?

Minggu lalu pulang lah gue ke Kemayoran, tempat di mana gue lahir dan tumbuh besar, dan di mana rumah emak gue harus ditengokin paling gak sekali dalam sebulan. Di sana bernaung lah para tante, om, dan tetangga yang (anggaplah) mereka over perhatian dengan kehidupan gue. Kenapa gue bilang begitu karena mereka selalu menanyakan hal-hal ajaib…

Rahasia dibalik on-time nya orang Jepang

Dua hari yang lalu gue ketinggalan bis dari halte dekat rumah. Loe tau gak rasanya ditinggal bis di Jepang itu gimana? DINGIIIINNNN!! Udah mah lagi berangin, suhu di bawah 10 derajat. Pagi-pagi, gue lari-larian dari rumah ke halte, gue keluar rumah telat 3 menit, 3 menit doang cuyyy.. Di Jepang loe telat 1 menit aja…

Berdamai? Coba tanya Rafael!

Serangan panik selalu menjadi penyundut terbaik untuk membakar tumpukan sekam yang berisi kepentingan banyak orang. Kepentingan untuk menjadi populer, pembuktian, atau sekedar menyelesaikan perjuangan keseharian. Pun terjadi pada saya beberapa minggu lalu di kantor, pertengkaran sia-sia nyaris berlangsung antara saya dan seorang rekan yang meminta melakukan sesuatu tanpa tedeng aling-aling dan berpikir lebih jauh dampak dari permintaannya….

Pahlawan metropolitan

Jakarta hari ini mungkin tenang, hanya suara riuh rendah para pekerja berebut masuk lift di gedung-gedung tinggi metropolitan. Bising hanya akan terdengar sore nanti, saat lengan kemeja telah di gulung hingga ke siku, saat wajah-wajah pekerja bersaing kusut dengan pakaian. Ketenangan itu tidak bisa saya nikmati ketika harus mengecek isi percakapan di aplikasi WhatsApp. Ada…

Makmur dan Beradab? Mana dulu?

Sering kali hal-hal yang ringkas, instan, dan cepat membuat saya lupa pada hal-hal sederhana seperti pasar. Rasanya sudah setahun lebih saya tidak pernah masuk ke dalam pasar, kalau hanya sekedar menunggu lima sampai sepuluh menit di parkiran, mungkin sering. Kembali ke pasar, yang saya ingat pasar itu selalu ramai,  pengap, dan bau daging (saya selalu muntah setiap…

Kenyal

Kondom, karet balon yang sama sekali belum pernah saya sentuh, sekalipun bungkusnya. Entahlah, menurut saya gak penting dan belum ada kebutuhan untuk  menggunakan. Sampai tadi pagi untuk pertama kalinya saya benar-benar memegang dan memperhatikannya dengan seksama, meskipun dari luar bungkusnya. Terus terang (tadi pagi) sebagai perempuan saya malu ketika menemukan benda kenyal itu di laci…

Agar ‘gading’nya tetap lestari

Devide et impera politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba. Pada artikel kompasiana yang saya dapat, dipertanyakan apakah devide et impera adalah cara yang memang harus diterima (nasib) atau kebodohan bangsa? Menurut saya ini bukan soal keduanya. Ini memang senjata psikologis paling ampuh sepanjang masa (saja memang). Jadi bukan nasib, dan bodoh atau tidaknya pasti bergantung…

Perempuan dilimitasi perasaan

“Perempuan memang nggak selalu benar. tapi dalam masalah perasaan, perempuan harus dibela.” – posted by a blogger in tumblr. Saya yakin (at least menurut keyakinan saya) bukan hanya si mbak blogger ini yang pernah meyakini quotesnya itu. Tapi banyak perempuan termasuk saya pernah merasa, berpikir, dan meyakini bahwa sebagai perempuan seharusnya saya dibela perasaannya. Sementara…

New Page – My Perspective – No debate and dialectic

Almost recovery, almost crazy Percis semalem gue update quote itu di Path. Iyes, memulihkan kesehatan itu berbanding lurus dengan menjaga kewarasan. Berhari-hari di rumah, gak bisa ngerjain apapun, lemas-lelah-lunglai-lemot. Belakangan hari ini gue baru bisa mulai haha-hihi di social media. Balesin whatsapp tanpa beler. Yaaa, seengaknya otak gue udah bisa diajak mikir lah setelah delapan hari diistirahatkan.HAHA…