Berdamai? Coba tanya Rafael!

Serangan panik selalu menjadi penyundut terbaik untuk membakar tumpukan sekam yang berisi kepentingan banyak orang. Kepentingan untuk menjadi populer, pembuktian, atau sekedar menyelesaikan perjuangan keseharian. Pun terjadi pada saya beberapa minggu lalu di kantor, pertengkaran sia-sia nyaris berlangsung antara saya dan seorang rekan yang meminta melakukan sesuatu tanpa tedeng aling-aling dan berpikir lebih jauh dampak dari permintaannya….

Pahlawan metropolitan

Jakarta hari ini mungkin tenang, hanya suara riuh rendah para pekerja berebut masuk lift di gedung-gedung tinggi metropolitan. Bising hanya akan terdengar sore nanti, saat lengan kemeja telah di gulung hingga ke siku, saat wajah-wajah pekerja bersaing kusut dengan pakaian. Ketenangan itu tidak bisa saya nikmati ketika harus mengecek isi percakapan di aplikasi WhatsApp. Ada…

Makmur dan Beradab? Mana dulu?

Sering kali hal-hal yang ringkas, instan, dan cepat membuat saya lupa pada hal-hal sederhana seperti pasar. Rasanya sudah setahun lebih saya tidak pernah masuk ke dalam pasar, kalau hanya sekedar menunggu lima sampai sepuluh menit di parkiran, mungkin sering. Kembali ke pasar, yang saya ingat pasar itu selalu ramai,  pengap, dan bau daging (saya selalu muntah setiap…

Kenyal

Kondom, karet balon yang sama sekali belum pernah saya sentuh, sekalipun bungkusnya. Entahlah, menurut saya gak penting dan belum ada kebutuhan untuk  menggunakan. Sampai tadi pagi untuk pertama kalinya saya benar-benar memegang dan memperhatikannya dengan seksama, meskipun dari luar bungkusnya. Terus terang (tadi pagi) sebagai perempuan saya malu ketika menemukan benda kenyal itu di laci…

Agar ‘gading’nya tetap lestari

Devide et impera politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba. Pada artikel kompasiana yang saya dapat, dipertanyakan apakah devide et impera adalah cara yang memang harus diterima (nasib) atau kebodohan bangsa? Menurut saya ini bukan soal keduanya. Ini memang senjata psikologis paling ampuh sepanjang masa (saja memang). Jadi bukan nasib, dan bodoh atau tidaknya pasti bergantung…

Perempuan dilimitasi perasaan

“Perempuan memang nggak selalu benar. tapi dalam masalah perasaan, perempuan harus dibela.” – posted by a blogger in tumblr. Saya yakin (at least menurut keyakinan saya) bukan hanya si mbak blogger ini yang pernah meyakini quotesnya itu. Tapi banyak perempuan termasuk saya pernah merasa, berpikir, dan meyakini bahwa sebagai perempuan seharusnya saya dibela perasaannya. Sementara…